Mengenal Ajaran Buddha “Jalan Menuju Hidup Bahagia”

ven.prof.Dr.Master Chin kung

Mengenal Ajaran Buddha
“Jalan Menuju Hidup Bahagia”
oleh: Ven.Prof.Dr.Master Chin Kung

 Bab 1 :Buddha Dharma
Guru agung ajaran Buddha adalah Sakyamuni Buddha. Beliau lahir 3000 tahun yang lalu di India utara. Menurut catatan sejarah Tiongkok Pangeran Siddharta lahir pada penanggalan Raja Zhuo Zhao tahun 24 (623 SM) dan mangkat pada penanggalan Raja Zhou Mu tahun 53. Pangeran Siddharta mangkat pada usia 79 tahun. Membabarkan dharma selama 49 tahun.

Seribu tahun setelah mangkat, pada jaman dinasti Han (penanggalan Raja Han Ming tahun 10 (67 M) ajaran Buddha masuk ke daratan Tiongkok. Aksara Buddha diterjemahkan dari bahasa Sansekerta yang artinya adalah Prajna (kebijaksanaan) dan kesadaran (pencerahan).

Prajna memilliki 3 kebijaksanaan:
1.Kebijaksanaan Sempurna Sravaka: pengertian secara tepat tentang isi alam semesta.
2.Kebijaksanaan sempurna Boddhisattva: pengertian sempurna tentang fenomena alam.
3.Kebijaksanaan sempurna Buddha: pengertian tentang hakekat kebenaran kehidupan manusia.

Buddha Sakyamuni memiliki ketiga prajna ini. Beliau membabarkan dalam salah satu sutra mengenai 3 jenis kesadaran: Kesadaran akan diri sendiri, membantu menyadarkan orang lain, sama-sama mencapai kesadaran yang sempurna.

Di jalan Mahayana, memiliki kesadaran untuk membantu mereka yang mendambakan kesadaran. Bagi mereka yang berjodoh, para Boddisattva ini pasti membantu membangkitkan kesadaran mereka sampai ke tingkat yang maha sempurna.

Prajna yang sempurna ini sebenarnya dimiliki oleh semua mahluk. Dalam sutra Yuan Cue dijelaskan bahwa semua mahluk sebenarnya dapat menjadi Buddha. Sebenarnya kita berasal dari tingkatan Buddha, namun terperosok terus hingga akhirnya sampai di kehidupan yang sekarang. Kebijaksanaan seakan hilang dan tertutup oleh debu dan kotoran.

Jika pandangan salah dapat dikurangi ataupun dapat dilenyapkan dengan tuntas, maka jati diri Buddha kita akan kembali pulih.

Bab 2: Apa itu ajaran Buddha?
Ajaran ini adalah semacam kebijaksanaan yang bertujuan untuk membimbing para mahluk agar sadar secara universal.
Ajaran Buddha adalah metode pendidikan yang diperlukan semua mahluk sebab ajaran Buddha dapat membantu kita menyelesaikan semua masalah dari rutinitas sehari-hari hingga urusan hidup sampai mati nanti.

Yang menjadi pembimbing di sebuah vihara disebut sebagai Biksu. Kata Biksu berasal dari bahasa sansekerta yang berarti guru pembimbing (wali kelas). Sedangkan anggota sangha yang tidak langsung menjadi pembimbing disebut sebagai “suhu”.

Bab 3: Transformasi (perubahan bentuk) ajaran Buddha di jaman modern
a. Agama Buddha Tradisional
b. Agama Buddha yang religius
c.Ilmu pengetahuan tentang ajaran Buddha.
d. Aliran sesat berkedok agama Buddha

Bab 4: Target pendidikan dalam ajaran Buddha
a. Gelar dalam pendidikan ajaran Buddha
Target akhir dari pendidikan ajaran Buddha adalah Anuttara Samyak-Sambuddha. Jika dosa, moha, lobha, keangkuhan, keakuan, perbedaan, dan kilesa sudah pupus, tidak muncul lagi maka orang ini telah mencapai kesadaran penuh dan mendapat gelar Samyak-Sambodhi.

b. Tujuan yang hendak dicapai pendidikan ajaran Buddha
Mencapai jalan pencerahan, melenyapkan penderitaan sampai ke pantai bahagia. Tujuan selanjutnya adalah melenyapkan kilesa dan keluar dari arus sirkulasi tumimbal lahir.

Bab 5: Pengenalan pendidikan ajaran Buddha – Sutra Ksitigarbha Bodhisattva
a. Maha paripurna atau maha sempurna
Pelajaran dasar bagi para pemula dalam aliran Mahayana adalah Sutra Ksitigarbha Bodhisattva. Maha paripurna sebenarnya adalah “jati diri” kita.

Manusia setiap hari giat bekerja demi profit dan reputasi, bekerja keras demi mendapatkan uang, sedangkan Buddha dan Bodhisattva bekerja bukan untuk uang melainkan untuk menolong para mahluk yang berada di 10 alam karmadhatu.

Kekuatannya bukan uang melainkan awan cahaya maha Maitreya. Bagaikan ibu yang merawat anaknya berani berkorban karena cinta kasih yang timbul dari lubuk hati. Cinta kasih ini dinamakan Maitreya. Berlandaskan Maitreya membuka pintu kemudahan, namun Maitreya yang keblabasan dapat menjadi petaka.

Bab 6 :Lima kurikulum ajaran Buddha
Intisari 5 kurikulum ajaran Buddha
a. 3 usaha mulia:
1.Bakti kepada kedua orang tua,
2.Menerima abhiseka trisarana (menjalankan vinaya),
3.Membangkitkan bodhicitta

b. 6 pedoman keharmonisan:
1.Mempunyai visi dan misi yang sama dalam hal cara membina diri
2.Menegakkan vinaya terutama 5 dasar sila Buddhis
3.Bermukim dan membina diri dengan rukun dalam satu atap /tempat tinggal
4.Tidak adu agrumentasi/berdebat tapi giat membina diri
5.Menikmati suka cita bersama dalam mempelajari Buddhadharma
6.Membagi rejeki (keperluan pokok dan tunjangan kesejahteraan) dengan adil dan merata

c. 3 subjek pelajaran:
1.Sila (mengatasi keserakahan)
2.Samadhi (melenyapkan kebencian/kemarahan)
3.Prajna (mengentaskan kebodohan)

d.Sad paramita (pedoman bersosialisasi, bermasyarakat, dan beraktifitas)

1.dana paramita, berdana dengan:
harta dan tenaga : mengakibatkan kaya dan makmur
Buddhadharma : mengakibatkan arif dan bijaksana
Dorongan semangat : sehat dan panjang umur

2.Sila paramitha ( taat pada sila dan hukum negara)

3.Ksanti paramitha (sabar penuh dengan pengertian dan tabah menghadapi hina-dina)

4.Virya paramitha (tekun mempelajari satu sutra saja agar berhasil)

5.Samadhi paramitha (beriman teguh, tak terobsesi oleh fenomena luar)

6.Prajna paramitha (pencerahan, dapat memahami dan mengatasi semua masalah)

e. 10 ikrar Samanthabadra Boddhisattva
1.Menghormati para Buddha
2.Memuja pahala dan kebajikan para Tathagatha
3.Persembahan berlimpah kepada para Buddha dan semua mahluk
4.Menyesal dan bertobat atas perbuatan salah
5.Bersyukur atas pahala dan kebajikan orang lain
6.Memohon para Buddha / suciwan memutar roda Dharma
7.Memohon Buddha selalu berada di dunia
8.Mengikuti suri tauladan Buddha dan berguru kepada Dharma
9.Berbaur dengan umat
10.Menyalurkan jasa pahala

Kembali ke bab 6, penjelasan dari:
A. 3 usaha mulia
Dharma bersifat dinamis. Buddha mengajar individu yang berlainan dengan cara yang berlainan pula.

Dalam pembukaan sutra Amitayus ada uraian tentang mengenai program membina diri. Sakyamuni Buddha membimbing permaisuri Vaidehi untuk melakukan 3 usaha mulia. Sang Buddha menjelaskan bahwa 3 usaha mulia ini adalah cikal bakal yang ditanam oleh para Buddha di 3 masa waktu.

3 usaha mulia adalah kunci keberhasilan para Buddha di 3 masa waktu (masa dulu, masa sekarang, dan masa akan datang).

Untuk mendapatkan kesuksesan dalam mempelajari Buddhadharma perlu melakukan 3 usaha mulia ini.
1.Keberuntungan di alam dunia dan dewata

Tiga usaha mulia terbagi menjadi beberapa poin
poin pertama adalah:
1.Berbakti kepada kedua orang tua
2.Hormat dan taat kepada guru dan ajarannya
3.Welas asih, tidak melakukan pembunuhan
4.Menjalankan 10 perbuatan bajik
poin kedua adalah:
5.Menerima abiseka trisarana
6.Menegakkan sila
7.Bertatakrama yang baik dalam masyarakat
poin ketiga adalah:
8.Membangkitkan boddhicitta
9.Yakin penuh pada hukum karma
10.Memperdalam ajaran Mahayana
11.Memotivasi orang lain untuk ikut belajar darma

2.Keberuntungan kaum Sravaka
Master Hui Neng pada jaman dinasti Tang mengatakan: Berlindung pada kesadaran, kebenaran, dan kesucian.

Dalam ajaran Sukhavati bahwa Amitabha berada dalam jati diri kita dan dapat menjelmakan alam surga Sukhavati. Bagi para umat pengikut sekte Sukhavati diharapkan masuk melalui pintu kesucian membina mata hati sampai suci bersih.

Aliran ini populer sebab tidak harus memiliki akar kebajikan tinggi, tidak perlu menempuh perjalanan jauh dan memakan waktu yang lama. Aliran Sukhavati mengandalkan lafalan Amitabha Buddha. Orang yang melatih diri dalam aliran Sukhavati mudah mendapat ketenangan batin dan yang terpenting adalah mengenali triratna dalam jati diri.

Sekte Sukhavati bersandar pada Amitabha Buddha sebagai Buddha ratna. Sangha ratnanya adalah Avalokitesvara, Sthamaprapta, Manjusri, dan Samantabhadra Bodhisattva.

Patriakh pertama dari sekte Sukhavati adalah Maha Sthamaprapta Bodhisattva. Beliaulah proklamator sekte Sukhavati di alam semesta dan insan pertama yang menganjurkan ber nian fo di jagat raya ini.

Belajar Buddha dharma adalah mencari jati diri. Sekte Sukhavati melafal nama Amitabha Buddha mencari ketenangan hati. Jika hati bersih maka tempat berpijakpun menjadi tanah suci.

Membangkitkan semangat kebodhian adalah motto dari aliran Mahayana, yaitu pegangan untuk menolong semua mahluk. Seorang bertekad menolong dirinya, kemudian menolong anggota keluarganya, sanak saudara, handai taulan dan mahluk yang tak terhitung banyaknya. Semuanya di tolong tanpa pandang bulu, itulah semangat kebodhian.

Jika terdapat umat bersembahyang tetapi tidak mengerti artinya, itu seperti anak belia bernyanyi, suara dan aksennya bagus tetapi artinya sama sekali tidak mengerti.

Melafal Amitabha Buddha berarti visi dan misinya sama dengan Amitabha Buddha. Andaikata niat, pandangan, pengertian dan tujuannya sama, maka kita adalah Amitabha Buddha. Jika sudah begini kita pasti akan sukses melatih diri dalam sekte Sukhavati.

B. 6 pedoman keharmonisan
1.Membangun persepsi dan pengertian yang sama.
2.Menjunjung tinggi dan taat pada vinaya
3.Hidup berdampingan secara damai
4.Bertutur bahasa yang lembut dan tidak bertengkar dengan orang lain
5.Sukacita, ceria dharma dinikmati bersama
6.Materi dan kesejahteraan di bagi sama rata

c.sila samadi prajna
Hyang Buddha membabarkan dimana saja dan kapan saja. Tujuannya untuk mengobati luka batin umat setempat pada waktu itu.

Perbuatan salah diobati dengan sila, batin yang tidak tenang dan tidak suci di obati dengan samadhi dan kebodohan diobati oleh prajna.

d.Sad Paramita
Terdiri dari dana paramita, sila paramita, ksanti paramita, virya paramita, Samadhi paramita, prajna paramita

Bhagava memberitahukan bahwa kekayaan, kepintaran, kesehatan, dan panjang umur adalah buah buah dari karma baik.

Jika hendak mendapat buah dari karma baik, kita harus menanam benihnya. Menanam bibit baik akan menghasilkan buah karma yang baik, menabur kejahatan akan menuai kejahatan.

e. 10 ikrar Samantabhadra Bodhisattva

BAB VII
Jenjang Kelas Pelatihan Diri dalam Buddhadharma
A. Srada / keyakinan, penghayatan, pengamalan, dan pembuktian
Buddha lebih memprioritaskan menolong mereka yang percaya kepadaNya, ini  sebab akibat jodoh dari Buddha.
B Tritunggal: sila, samadhi, dan prajna

Bab VIII
Seni Pendidikan Buddhadharma
Dalam masyarakat India, anggota Sangha yang berpindapatta sangat dihargai.

Anggota sangha adalah tamu kehormatan Raja. Raja juga mengangkat mereka menjadi guru atau penasehat. Jadi agar tidak berkeliaran di jalan untuk meminta-minta maka kerajaan membangun sebuah vihara untuk akomodasi mereka. Istana mengutus pembantu-pembantu untuk melayani dan mengurus keperluan anggota Sangha.

Banyak yang menganggap bahwa agama Buddha adalah agama yang menyembah banyak dewa, lalu beranggapan bahwa ini adalah agama rendahan yang menyembah berhala. Beda dengan agama kelas tinggi yang menganut hanya satu Tuhan saja.

Rupang hanyalah satu simbol kaidah saja. Di dunia ini begitu banyak terjadi peristiwa, jika mengandalkan satu figur atau satu simbol saja untuk mengatasinya, pasti kewalahan. Para Buddha adalah lambang jati diri kita. Para Boddhisattva dan Arahat adalah representasi kebajikan kita.

Manjusri Boddhisattva memiliki prajna nomor satu dan merupakan icon dari penghayatan. Samantabahdra Boddhisattva bercitra praktek nyata. Jadi dengan kata lain, garis besarnya hanya terbagi menjadi dua bagian saja: “penghayatan” dan “Pengamalan”

Sekte Sukhavati meletakkan rupang Amitabha Buddha ditengah artinya “jati diri”. Maha welas asih, Maha karuna Avalokitesvara Bodhisattva-Mahasattva disisi kanan merupakan lambang “pengamalan”. Maha Sthamaprapta Boddhisattva-Mahasattva di sisi kiri melambangkan kebijaksanaan tinggi simbol dari “penghayatan”

Memuja rupang Buddha dan patung Boddhisattva juga perlu mengerti maknanya.

Segelas air putih dipersembahkan di altar. Air melambangkan kebersihan dan sesucian. Ini artinya batin perlu bersih dan suci, tidak bergelombang, dan senantiasa menjaga ketenangan batin.

Bunga merupakan simbol dari penyebab atau perbuatan. Setelah berbunga pasti berbuah. Persembahan buah perlu diingat bahwa perlu menanam benih tertentu jika menginginkan buah tertentu juga.

Pelita melambangkan prajna dan penerangan. Dupa melambangkan sila, samadhi, dan prajna.

Bermanfaat bagi orang lain dan orang banyak. Menuju kesadaran dan kebahagiaan.

                                                   selesai
komentar:
Uraian diatas merupakan rangkuman buku setebal kurang lebih 250 halaman. Jika sudah membaca dan mengerti buku ini, maka pandangan dan pengertian tidak akan sama seperti dulu lagi.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: