Sunat menurut Kristen

Rasul Paulus menuliskan  dalam Roma 2:29, yang intinya bahwa orang Kristen sebaiknya “bersunat di dalam hati”. Mungkin ada yang bertanya-tanya: “Kok hatinya yang disunat? Bagaimana caranya hati manusia di sunat? Bukankah letak hati ada di dalam tubuh?”

Untuk dapat menjawabnya, perlu diketahui bahwa Kristen berpegang pada Alkitab yang terdapat kiasan-kiasan, perumpamaan serta metafora. Contohnya: Yesus berkata: Akulah jalan (yoh 14:6); bukan berarti Yesus benar-benar jalan raya, Akulah roti hidup (yoh 6:48); bukan berarti Yesus adalah roti, Akulah pintu (yoh 10:7); bukan berarti Yesus adalah pintu rumah. Akulah pokok anggur (yoh 15:5); bukan berarti Yesus adalah pohon anggur. Jadi yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus dalam bersunat hati adalah kiasan, perumpamaan dan metafora. Roma 2:28-29 “Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Tuhan.”

Bersunat hati dapat diartikan tidak melakukan keinginan-keinginan daging. Apa saja keinginan daging itu? Galatia 5:19-21.

Ketika terjadi perdebatan sengit tentang perlu tidaknya sunat, dimana kaum Yahudi berpendapat bahwa sunat itu suatu keharusan sebab merupakan tanda perjanjian antara Tuhan dengan kaum Israel. Dan Orang yang bukan Yahudi menanyakan perlukah disunat? Paulus menjawabnya dalam Galatia 5:6 ” Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” Juga di dalam Galatia 6: 15 “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. seakan-akan Rasul Paulus hendak menyatakan: “Sudahlah..akhiri saja perdebatan itu, sunat ataupun tidak disunat, yang lebih penting adalah menjadi ciptaan baru.

Apa maksudnya menjadi ciptaan baru? Mungkin dalam konteks itu Rasul Paulus hendak menyatakan lebih baik membahas tentang ciptaan barunya daripada membahas tentang sunat lahiriahnya. Mungkin artinya: akhirilah perdebatan tentang sunat lahiriah dan mulailah membahas tentang ciptaan baru.

Ciptaan baru dapat berupa sifat dan karakter. Menciptakan perubahan karakter dari yang kurang atau tidak baik menjadi lebih baik.

Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Galatia 5:22).

disusun oleh: Vijaya Handoko

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: