Kitab Yeremia dan tafsir Yeremia pasal 11

YEREMIA

Nabi Yeremia lahir di sekitar thn. 650 seb. Mas., lebih kurang seabad lebih sedikit sesudah nabi Yesaya. Yeremia berasal dari sebuah keluarga imam yang berkediaman dekat kota Yeremia. Kehidupan dan watak Yeremia dikenal secara lebih terperinci dari pada kehidupan nabi-nabi lain. Sebab riwayat Yeremia diceritakan dalam beberapa kisah yang ditulis orang lain dan tersebar di seluruh kitabnya. Urutan kisah-kisah tsb. dalam waktu adalah sbb: Yer 19:1-20:6; 26; 36; 45; 28- 29; 51:59-64; 34:8-22; 37-44. “Pengakuan-pengakuan Yeremia” yaitu Yer 11:18- 12:6; 15:10-21; 17:4-18; 18:18-23; 20:7-18, berasal dari nabi sendiri. “Pengakuan-pengakuan” nabi itu bukanlah sebuah autobiografi dalam arti sebenarnya, melainkan lebih-lebih semacam kesaksian yang mengharukan hati mengenai kemelut-kemelut yang dialami nabi. Pengakuan-pengakuan itu dikarang berupa mazmur-mazmur ratapan.

Setelah wafatnya Salomo dan terpecahnya kerajaannya, sejarah Kerajaan Yehuda kelihatan mencatat empat kemerosotan keagamaan dan tiga kebangunan rohani. Yosia (640-609 SM) adalah raja terakhir yang baik. Selama pemerintahannya terjadi kebangunan rohani terkenal, karena penemuan gulungan kitab Hukum Taurat. Ini merupakan kebangunan rohani terakhir. Sesudah zaman ini sejarah Yehuda mencatat kemerosotan politik, moral, serta keagamaan secara terus-menerus, dan mencapai puncaknya pada pembuangan ke Babel. Periode terakhir kemerosotan ini merupakan masa pelayanan Nabi Yeremia.

Ini adalah periode di mana kerajaan Babel baru itu muncul. Pada pertengahan periode Kerajaan yang Terbagi Dua, Asyur menguasai kawasan “Bulan Sabit yang Subur.” Tetapi, sesudah ibu kota Niniwe jatuh tahun 612 SM, Kerajaan Asyur terpecah, plan Babel menjadi pusat peradaban dunia. Upaya sia-sia bangsa Mesir memanfaatkan kekuasaannya selama terjadi krisis pada kerajaan-kerajaan ini meninggalkan bekas pada kisah Alkitab. Sebetulnya, menurut sumber-sumber Alkitab ada dua kelompok di istana Yerusalem. Kelompok pro-Mesir menganggap Mesir sedang bangkit sebagai kekuatan dunia, dan bangsa Yahudi hendaknya mengandalkan Mesir sebagai pertahanan terhadap serangan Babel. Sementara kelompok pro-Babel melihat bahwa Babel yang sedang naik bintangnya ini mempunyai kekuatan tak terkalahkan dan mereka mendesak agar tunduk kepada Babel sebagai harga untuk kelangsungan hidup bangsa Yahudi. Nabi memperingatkan bangsanya untuk tidak mengandalkan Mesir maupun Babel, melainkan mengandalkan Allah.

Yeremia memulai pelayanannya dalam tahun ketiga belas pemerintahan Yosia (626 SM), lima tahun sesudah kebangunan rohani. Pelayanannya berlanjut sampai tahun-tahun awal Pembuangan. Dia meninggal di Mesir, barangkali beberapa tahun sesudah penghancuran Yerusalem tahun 587 SM.

Yosia terbunuh di Megido pada tahun 609 SM dalam usahanya yang gagal untuk menghentikan Firaun Nekho, yang sedang. dalam perjalanan hendak mendukung Kerajaan Asyur yang hampir runtuh. Yoahas, putra Yosia, menggantikan ayahnya di Yerusalem. Nekho rupanya menganggap Yoahas pro-Babel, karena dia membawanya ke Mesir (setelah memerintah tiga bulan) dan mengangkat Yoyakim sebagai raja (609-598 SM). Yoyakim adalah penguasa yang kuat dan sangat fasik. Dalam sejumlah kejadian dia berusaha membungkam Yeremia. Selama pemerintahannya, Yeremia mendiktekan kitab pertamanya, yang dimusnahkan oleh raja itu (Yer. 36). Selama pemerintahannya juga, pecah pertempuran Karkemis (605 SM), di mana Mesir dipukul oleh putra mahkota Babel, Nebukadnezar, yang tidak lama kemudian menjadi raja Babel. Lalu kerajaan Babel mulai menguasai dunia yang dikenal pada waktu itu.

Sesudah menang dalam pertempuran Karkemis, selanjutnya Nebukadnezar menaklukkan Palestina sehingga Yehuda masuk lingkup pengaruh Babel. Beberapa orang Yahudi (di antaranya Daniel) dibawa ke Babel pada zaman itu. Belakangan Yoyakim memberontak. Kemudian Yehuda banyak mengalami kesengsaraan, mungkin termasuk serbuan Babel yang lain terhadap Yerusalem. Yoyakim meninggal di tengah kerusuhan itu – barangkali menjadi korban kudeta di istana – setelah sebelas tahun dia memerintah.

Yoyakhin, putra Yoyakim, naik takhta menggantikan ayahnya. Yeremia menyebut raja itu sebagai Konya dan Yekhonya (22:24, 28; 24:1; 27:20; 29:2). Yoyakhin baru memerintah tiga bulan ketika bangsa Babel menyerang Yerusalem (ini merupakan usaha yang terlambat untuk memukul pemberontakan Yoyakim) dan membawa Yoyakhin ke Babel (597 SM) bersama pemuka-pemuka orang Yahudi dan banyak tenaga terampil. Sesudah tiga puluh tujuh tahun dikurung di. sana, Yoyakhin dilepaskan dari penjara di Babel.

Nebukadnezar mengangkat Zedekia, paman Yoyakhin, menggantikan Yoyakhin. Selama sebelas tahun dia mempertahankan jabatan yang sulit sebagai taklukan Nebukadnezar. Zedekia seorang yang lemah, namun dia melindungi Yeremia dari usaha para bangsawan yang ingin membunuhnya dan dia menerima nasihat Yeremia, walaupun dia tidak pernah mampu untuk melaksanakannya. Tak dapat disangkal, dia juga mengejar cita-cita untuk merdeka, sehingga harus memberontak. Pada tahun kesembilan pemerintahan Zedekia, Nebukadnezar memulai pengepungan terakhir atas Yerusalem; dalam tahun kesebelas (587 SM) pemerintahan Zedekia, kota tersebut direbut dan dihancurkan. Zedekia yang dibuat buta dibawa ke Babel bersama banyak orang sebangsanya.

Mengenai berbagai peristiwa di Yehuda setelah penghancuran Yerusalem, kita nyaris hanya bergantung pada Kitab Yeremia (ps. 40-45). Yeremia dan banyak rakyat biasa ditinggalkan di negeri itu di bawah pimpinan Gedalya, gubernur boneka untuk wilayah itu. Sesudah kerusuhan sipil, di mana Gedalya terbunuh, orang-orang Yahudi tertentu – tidak diragukan mereka adalah sisa-sisa dari kelompok pro-Mesir – lari ke Mesir, dengan memaksa Yeremia untuk menyertai mereka ke sana. Di Mesir sang nabi meninggal.

Kematian Yeremia mengakhiri sejarah kerajaan Ibrani. Perintah Koresy untuk mengizinkan orang-orang buangan kembali ke Yehuda merupakan tanda awal dari zaman baru Persemakmuran Kedua.

Yeremia dipanggil Allah sebagai nabiNya pada thn. 626 yaitu pada thn. ke-13 pemerintah raja Yosia. Pada waktu itu Yeremia masih muda. Ia menunaikan tugasnya dalam zaman yang tragis bagi bangsa Israel, dalam zaman yang mendahului dan menyaksikan kehancuran kerajaan Yahudi. Pembaharuan di bidang agama dan pemulihan semangat nasional yang diusahakan raja Yosia telah membangkitkan pengharapan baru. Tetapi pengharapan itu hilang setelah raja Yosia gugur di medan perang di Megido pada thn. 609. Proses hilangnya pengharapan itu dipercepat juga oleh kerusuhan yang menggoncangkan dunia Timur pada masa itu: jatuhnya kota Niniwe pada thn. 612 dan ekspansi kerajaan Kasdim. Pada thn. 605 Palestina jatuh ke dalam tangan Nebukadnezar dan menjadi negeri taklukan negeri Kasdim. Lalu memberontaklah kerajaan Yehuda. Pemberontakan itu dikarenakan hasutan dari pihak Mesir yang terus bersekongkol sampai thn. 597. Pada thn. itu Nebukadnezar merebut kota Yerusalem dan mengangkut sebagian penduduknya ke Babel. Kemudian Yehuda memberontak untuk kedua kelinya. Pada thn. 587 pemberontakan itu dipandamkan oleh tentara Kasdim yang merebut kota Yerusalem, membakar Bait Suci membuang penduduk negeri untuk kedua kalinya.

Semua peritiwa tragis ini disaksikan Yeremia. Ia berkhotbah, mengancam, menubuatkan kehancuran bangsa. Dengan sia-sia ia memperingatkan raja-raja tidak berdaya yang silih berganti menduduki takhta Daud. Pemimpin-pemimpin tentara menuduh Yeremia, bahwa ia memadamkan semangat berjuang dalam hati rakyat. Sebagai akibatnya Yeremia dianiaya dan dipenjarakan. Sesudah kota Yerusalem jatuh ke tangan musuh, yeremia tinggal di Palestina, meskipun insaf, bahwa masa depan bangsanya terletak pada kaum buangan, Yeremia mendampingi Gedalya yang oleh penguasa Kasdim diangkat menjadi gubernur kota Yerusalem. Tetapi Gedalya mati terbunuh dan sekelompok orang Yahudi yang takut akan balasan dari pihak Asyur melarikan diri ke Mesir dengan membawa serta nabi Yeremia. Mungkin sekali nabi meninggal dunia di Mesir.

Drama kehidupan Yeremia tidak hanya terletak dalam peristiwa-peristiwa tragis yang didalamnya ia ikut serta. Drama itu juga terletak dalam seluruh kepribadiannya. Yeremia berjiwa halus. Hatinya penuh kasih. Namun ia diutus Allah untuk “mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan”, Yer 1:10, dan terpaksa menubuatkan kelaliman, Yer 20:8. Ia suka akan damai, tetapi selalu harus melawan saudara-saudara sebangsanya, raja-raja, para imam, para palsu, seluruh bangsa, sebagai “seorang yang menjadi buah perbantahan dan buah percederaan bagi seluruh negeri”, Yer 15:10. Tugas yang diterimanya dari Allah menusuk hatinya, tetapi ia tidak dapat melepaskan diri dari padanya, Yer 20:9. Pembicaraan hatinya dengan Tuhan penuh jeritan sengsara: “Mengapa penderitaan tidak berkesudahan?”, Yer 15:18, dan serupa dengan Ayub Yeremia menjerit: “Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan!”, Yer 20:14 dst.

Tetapi penderitaan itu memurnikan hati Yeremia dan membuka jiwanya bagi pergaulan mesra dengan Allah. Kalau kita merasakan nabi Yeremia berdekatan dengan kita, maka sebabnya justru agama batiniah dalam hati yang baru kelak, Yer 31:31-34. Berkat penghayatan agama secara pribadi, Yeremia membalas setiap orang menurut perbuatannya sendiri, Yer 31:29-30; dosa yang dalam hati yang jahat, Yer 4:4; 17:9; 18:12, memutuskan persahabatan dengan Allah, Yer 2:2. Nada kemesraan ini mendekatkan Yeremia kepada nabi Hosea, yang memang mempengaruhi Yeremia. Cara nabi Yeremia merohanikan hukum Taurat, emnonjolkan peranan hati dalam hubungan dengan Allah, memperhatikan kepribadian manusia, mendekatkannya pada kitab Ulangan. Sudah barang tentu nabi Yeremia senang melihat pembaharuan agama yang diusahakan raja Yosia berdasarkan kitab Ulangan. Namun ia kecewa sekali melihat, bahwa pembaharuan itu tidak berhasil merubah hidup moril dan keagamaan bangsanya.

Semasa hidupnya Yeremia nampaknya gagal dalam tugasnya. Akan tetapi sesudah ia meninggal, pribadi Yeremia semakin dijunjung tinggi. Melalui ajarannya mengenai Perjanjian Baru yang akan bertumpu pada agama batiniah, Yeremia menjadi bapak agama Yahudi dalam cabangnya yang paling murni. Pengaruh ajarannya terasa dalam kitab Yehezkiel, Deutero-Yesaya dan dalam sejumlah mazmur. Di masa para Makabe, Yeremia dihormati sebagai salah satu pelindung bangsa, 2Mak 2:1-8; 15:12-16. Dengan mengutamakan nilai-nilai rohani dan dengan membuka rahasia kemesraan yang seharusnya menjiwai hubungan manusia dengan Allah, Yeremia mempersiapkan Perjanjian Baru yang diadakan Kristus. Oleh karena hidupnya penuh penyangkalan diri dari penderitaan dalam pengabdian kepada Allah, Yeremia barangkali menginspirasikan gambar “Hamba Tuhan” dalam Yes 53dan menjadi lambang Kristen.

Pengaruh ajaran Yeremia yang tahan waktu itu menunjukkan, bahwa ajarannya sering kali dibaca, direnungkan dan ditafsirkan. Usaha keturunan rohani Yeremia itu tercermin dalam susunan kitabnya. Kitab Yeremia sekali-kali bukannya sebuah buku yang sekali jadi tersusun. Selain nubuat-nubuat yang berupa sajak serta kisah-kisah berupa riwayat hidup, kitab Yeremia memuat juga wejangan-wejangan yang dikarang dalam prosa dan menyerupai gaya kitab Ulangan. Keaslian wejangan- wejangan itu pernah disangkal. Dikatakan, bahwa wejangan-wejangan itu dikarang oleh penyusun-penyusun yang mengerjakan kitab Ulangan sesudah Israel kembali dari pembuangan. tetapi gaya bahasa wejangan-wejangan itu serupa dengan tulisan- tulisan Yahudi dari abad ke-7 dan awal abad ke-6 seb. Mas. Ajaran teologis wejangan-wejangan itu sama dengan aliran keagamaan yang mempengaruhi kitab Yeremia maupun kitab Ulangan. Wejangan-wejangan itu menggemakan nada asli pewartaan Yeremia yang dikumpulkan para pendengarnya. Seluruh tradisi yang berpangkal nabi Yeremia itu tidak terpelihara dalam satu bentuk saja. Terjemahan Yunaninya menyajikan sebuah teks itu berbeda dalam hal-hal kecil. Penemuan- penemuan di Qumran membuktikan, bahwa kedua resensi tsb. pernah beredar dalam bahasa Ibrani. Kecuali itu terjemahan Yunani menempatkan nubuat-nubuat melawan bangsa-bangsa lain sesudah Yer 25:13 dan dalam urutan berlaianan dari teks Ibrani yang menempatkannya pada akhir kitab, Yer 46-51. Nubuat-nubuat ini barangkali aslinya suatu kumpulan tersendiri dan tidak semua nubuat itu berasal dari nabi Yeremia. Setidak-tidaknya nubuat melawan bangsa Moab dan Edom dikerjakan kembali dan diberi bentuk yang baru. Nubuat panjang melawan Babel, Yer 50-51, berasal dri masa menjelang akhir pembuangan. bab 52 jelas nampak sebagai sebuah tambahan historis yang sejajar dengan 2Raj 24:18-25:30. Tambahan-tambahan lain, yang lebih pendek, tersebar di seluruh kitab. Tambahan- tambahan itu menunjukkan, bahwa kitab Yeremia dipakai dan sangat dihargai oleh para buangan di Babel maupun oleh jemaat sesudah zaman pembuangan. Dalam kitab Yeremia terdapat juga sejumlah besar bagian yang terulang yang mengandalkan, bahwa kitab ini dikerjakan orang lain. Akhirnya petunjuk-petunjuk mengenai urutan peristiwa dalam waktu, yang sangat banyak jumlahnya dalam kitab ini tidak berurutan. Susunan kitab sekarang yang kacau dikarenakan kerja penggubahan yang makan banyak waktu dan sulit sekali menentukan tahap-tahap penyusunannya.

Sehubungan dengan itu terdapat sebuah catatan yang sangat penting dalam bab 36: pada thn. 606 Yeremia mendiktekan kepada Barukh segala nubuat yang diucapkannya sejak ia mulai bertugas sebagai nabi, Yer 36:2, yaitu sejak thn. 626. Gulungan kitab pertama yang memuat nubuat-nubuat tsb. dibakar oleh raja Yoyakim, lalu dicatat dan disusun kembali, Yer 36:32. Isi kumpulan nubuat yang hilang itu hanya dapat dikira-kira saja. Barangkali gulungan itu dibuka dengan Yer 25:1-12 dan terdiri dari bagian-bagian yang dikarang sebelum thn. 605 dan yang sekarang termaktub dalam bab 1-18. Tetapi gulungan itu mencakup pula, sesuai dengan petunjuk dalam Yer 36:2, nubuat-nubuat melawan bangsa-bangsa lain yang dengannya bersangkutan Yer 25:13-38. lalu ke dalamnya disisipkan bagian-bagian lain, yaitu yang dikarang sesudah thn. 605, dan nubuat-nubuat lain melawan bangsa-bangsa lain. Disisipkan pula beberapa “pengakuan Yeremia” yang secara terperinci sudah dibicarakan di muka. Akhirnya naskah itu ditambahi dengan dua kumpulan nubuat-nubuat melawan beberapa raja, Yer 21:11-23:8, dan nabi-nabi palsu, Yer 23:9-40, yang barangkali aslinya beredar tersendiri.

Dengan demikian sudah tampil dua bagian kitab Yeremia, yaitu: bagian pertama, Yer 1:1-25:13, yang memuat ancaman-ancaman terhadap negeri Yehuda dan Yerusalem, dan bagian kedua, Yer 25:13-38 serta Yer 25:46-51, yang berisikan nubuat-nubuat melawan bangsa-bangsa lain. Bagian ketiga kitab Yeremia terdiri dari Yer 25:26-35. Bagian ini menderetkan sejumlah kepingan yang bernada optimis. Hampir semua kepingan itu dikarang dalam prosa dan kebanyakan berasal dari sebuah riwayat hidup Yeremia yang mungkin ditulis oleh Barukh. Bab 30-31, yaitu sebuah kitab kecil yang berupa sanjak mengenai penghiburan, merupakan bagian tersendiri. Bagian keempat, yaitu bab 36-44, yang dikarang dalam prosa, melanjutkan riwayat hidup Yeremia dan mengisahkan penderitaan-penderitaan nabi waktu Yerusalem terkepung dan sesudahnya. Bagian ini ditutup dengan Yer 45:1-5 berupa “tanda tangan” Barukh.

Ende: Yeremia (Pendahuluan Kitab)

 1.Latar Belakang

Pelayanan Yeremia sebagai nabi diarahkan kepada kerajaan selatan Yehuda, sepanjang 40 tahun terakhir dari sejarahnya (626-586 SM). Ia masih hidup untuk menyaksikan serbuan Babel ke Yehuda yang berakhir dengan kebinasaan Yerusalem dan Bait Suci. Karena tugas Yeremia ialah bernubuat kepada bangsa itu selama tahun-tahun akhir dari kemunduran dan kejatuhannya, dapatlah dimengerti bahwa, kitabnya penuh dengan kesuraman dan firasat buruk.

Yeremia, putra seorang imam, lahir dan dibesarkan di Anatot, desa para imam (6 km di timur laut dari Yerusalem) selama pemerintahan Raja Manasye yang jahat. Yeremia memulai pelayanan sebagai nabi pada tahun ke-13 pemerintahan Raja Yosia yang baik, dan ia ikut mendukung gerakan pembaharuan Yosia. Akan tetapi, ia segera menyadari bahwa gerakan itu tidak menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh dalam hati bangsa itu; Yeremia mengingatkan bahwa jika tidak ada pertobatan nasional sejati, maka hukuman dan pemusnahan akan datang dengan tiba-tiba.

Pada tahun 612 SM, Asyur dikalahkan oleh suatu koalisi Babel. Sekitar empat tahun setelah kematian Raja Yosia, Mesir dikalahkan oleh Babel pada pertempuran di Karkemis (605 SM; lih. Yer 46:2). Pada tahun yang sama pasukan Babel di bawah pimpinan Nebukadnezar menyerang Palestina, merebut Yerusalem dan membawa sebagian pemuda pilihan dari Yerusalem ke Babel, di antara mereka terdapat Daniel dan ketiga sahabatnya. Penyerbuan kedua ke Yerusalem terjadi tahun 597 SM; ketika itu dibawa 10.000 orang tawanan ke Babel, di antaranya terdapat Yehezkiel. Selama ini nubuat Yeremia yang memperingatkan tentang hukuman Allah yang mendatang tidak diperhatikan. Kehancuran terakhir menimpa Yerusalem, Bait Suci, dan seluruh kerajaan Yehuda dalam tahun 586 SM.

Kitab nubuat ini menunjukkan bahwa Yeremia, sering kali disebut “nabi peratap,” merupakan seorang yang membawa amanat keras namun berhati lembut dan hancur (mis. Yer 8:21–9:1). Sifatnya yang lembut itu menjadikan penderitaannya makin mendalam ketika firman nubuat Allah ditolak dengan angkuh oleh kerabat dan sahabat, imam dan raja, dan sebagian besar bangsa Yehuda. Walaupun sepi dan ditolak seumur hidupnya, Yeremia termasuk nabi yang paling tegas dan berani. Kendatipun berhadapan dengan perlawanan yang berat, dengan setia ia melaksanakan panggilannya sebagai nabi untuk memperingatkan sesama warga Yehuda bahwa hukuman Allah makin dekat. Ketika merangkum kehidupan Yeremia, seorang penulis mengatakan: “Tidak pernah manusia fana memperoleh beban yang begitu meremukkan. Sepanjang sejarah bangsa Yahudi tidak pernah ada teladan kesungguhan yang begitu mendalam, penderitaan tak henti-hentinya, pemberitaan amanat Allah tanpa takut, dan syafaat tanpa kenal lelah dari seorang nabi seperti halnya Yeremia. Tetapi tragedi kehidupannya ialah: bahwa ia berkhotbah kepada telinga yang tuli dan menuai hanya kebencian sebagai balasan kasihnya kepada orang-orang senegerinya”.

Penulis kitab ini jelas disebut yaitu Yeremia (Yer 1:1). Setelah bernubuat selama 20 tahun di Yehuda, Yeremia diperintahkan Allah untuk menuangkan amanatnya dalam bentuk tertulis; hal ini dilakukannya dengan mendiktekan nubuat-nubuatnya kepada Barukh, juru tulisnya yang setia (Yer 36:1-4). Karena Yeremia dilarang menghadap raja, Barukh diutus untuk membacakan nubuat-nubuat itu di rumah Tuhan, dan setelah itu Yehudi membacakannya kepada Raja Yoyakim. Raja itu menunjukkan sikap menghina kepada Yeremia dan firman Allah dengan menyobek-nyobek kitab gulungan itu dengan pisau lalu melemparkannya ke dalam api (Yer 36:22-23). Yeremia kemudian mendiktekan kembali nubuat-nubuatnya kepada Barukh, kali ini ia mencantumkan lebih banyak daripada di gulungan pertama. Kemungkinan besar, Barukh menyusun kitab Yeremia dalam bentuk terakhirnya segera sesudah wafatnya Yeremia (+585 — 580 SM).

2. Tujuan

Kitab ini ditulis

  1. untuk menyediakan suatu catatan abadi dari pelayanan dan berita nubuat Yeremia,

  2. untuk menyatakan hukuman Allah yang pasti jadi dan tidak terelakkan ketika umat-Nya melanggar perjanjian dan bersikeras dalam pemberontakan terhadap Allah dan firman-Nya, dan

  3. untuk menunjukkan keaslian dan kekuasaan firman nubuat. Banyak nubuat Yeremia tergenapi pada zamannya sendiri (mis. Yer 16:9Yer 20:4Yer 25:1-14Yer 27:19-22Yer 28:15-17Yer 32:10-13Yer 34:1-5); nubuat lainnya yang meliputi masa depan yang amat jauh digenapi kemudian atau masih belum digenapi (mis. Yer 23:5-6Yer 30:8-9Yer 31:31-34Yer 33:14-16).

3. Survai

Kitab ini pada dasarnya merupakan kumpulan nubuat-nubuat Yeremia, yang terutama dialamatkan kepada Yehuda (pasal 2-29;Yer 2:1–29:32), tetapi juga kepada sembilan bangsa asing lainnya (pasal 46-51Yer 46:1–51:64); nubuat-nubuat ini terutama dipusatkan pada hukuman, walaupun ada beberapa yang membahas pemulihan (lih. khususnya pasal 30-33Yer 30:1–33:26). Nubuat-nubuat ini tidak secara teliti disusun menurut kronologi atau tema, sekalipun kitab ini menyajikan susunan menyeluruh sebagaimana yang tampak dalam Garis Besar di atas. Sebagian kitab ini ditulis dalam bentuk syair, sedangkan bagian lainnya dalam bentuk prosa atau cerita. Berita nubuatnnya terjalin dengan aneka kilasan sejarah dari

  1. kehidupan pribadi dan pelayanan sang nabi (mis. pasal 1Yer 1:1-19Yer 34:1–38:28Yer 40:1–45:5),

  2. sejarah Yehuda terutama selama masa Raja Yosia (pasal 1-6Yer 1:1–6:30), Yoyakim (pasal 7-20Yer 7:1–20:18), dan Zedekia (pasal 21-25, 34Yer 21:1–25:38Yer 34:1-22), termasuk runtuhnya Yerusalem (pasal 39Yer 39:1-18), dan

  3. aneka peristiwa internasional yang melibatkan Babel dan bangsa-bangsa lainnya (pasal 25-29, 46-52Yer 25:1–29:32Yer 46:1–52:34).

Seperti Yehezkiel, Yeremia memakai berbagai tindakan yang bersifat perumpamaan dan lambang untuk mengilustrasikan berita nubuatnya dengan lebih jelas: mis. ikat pinggang yang lapuk (Yer 13:1-14), musim kering (Yer 14:1-9), larangan oleh Allah untuk menikah dan mempunyai anak (Yer 16:1-9), penjunan dan tanah liat (Yer 18:1-11), buli-buli yang dihancurkan penjunan (Yer 19:1-13), dua keranjang buah ara (Yer 24:1-10), kuk di pundaknya (Yer 27:1-11), pembelian ladang di kota kelahirannya (Yer 32:6-15), dan batu-batu besar yang disembunyikan dalam pelataran istana Firaun (Yer 43:8-13). Pemahaman Yeremia yang jelas akan panggilannya sebagai nabi (Yer 1:17), seiring dengan penegasan Allah yang berulang-ulang (mis. Yer 3:12Yer 7:2,27-28;Yer 11:2,6Yer 13:12-13Yer 17:19-20), memungkinkan dia untuk memberitakan nubuatnya dengan tegas dan setia kepada Yehuda kendatipun tanggapan yang terus diterimanya adalah permusuhan, penolakan, dan penganiayaan (mis. Yer 15:20-21). Setelah kebinasaan Yerusalem, Yeremia dipaksa pergi ke Mesir di mana ia tetap bernubuat sampai kematiannya (pasal 43-44;Yer 43:1–44:30).

4. Ciri-ciri Khas

Tujuh ciri utama menandai kitab Yeremia.

  1. Kitab ini menjadi kitab terpanjang kedua dalam Alkitab, berisi lebih banyak kata (bukan pasal) daripada kitab lainnya selain Mazmur.

  2. Kehidupan dan pergumulan pribadi Yeremia selaku nabi diungkapkan dengan lebih mendalam dan terinci dibandingkan nabi PL lainnya.

  3. Kitab ini sarat dengan kesedihan, sakit hati, dan ratapan dari “nabi peratap” itu karena pemberontakan Yehuda. Kendatipun berita Yeremia itu keras, ia menderita kesedihan dan hancur hati yang mendalam karena umat Allah; namun kesetiaannya adalah terutama kepada Allah, dan ia merasa kesedihan yang paling dalam karena hati Allah terluka.

  4. Salah satu kata kunci ialah “murtad,” (dipergunakan 8 kali) dan “tidak setia” (dipakai 9 kali), dan tema yang muncul terus ialah hukuman Allah yang tidak terelakkan lagi atas pemberontakan dan kemurtadan.

  5. Satu-satunya penyataan teologis yang terbesar di kitab ini ialah konsep “perjanjian baru” yang akan ditetapkan Allah dengan umat-Nya yang setia pada saat pemulihan kelak (Yer 31:31-34).

  6. Syairnya mengesankan dan penuh perasaan seperti syair Alkitab lainnya, dengan kelimpahan metafora, ungkapan-ungkapan yang hidup dan bagian-bagian patut diingat.

  7. Rujukan terhadap Babel di dalam nubuat Yeremia (164) lebih banyak daripada di semua bagian lain di Alkitab.

5. Penggenapan Dalam Perjanjian Baru

Yeremia terutama di kutip dalam PB berkenaan dengan nubuatnya tentang “perjanjian baru” (Yer 31:31-34). Sekalipun Israel dan Yehuda berkali-kali melanggar perjanjian-perjanjian Allah dan kemudian dihancurkan dalam hukuman akibat kemurtadan mereka, Yeremia menubuatkan suatu saat ketika Allah akan mengikat perjanjian yang baru dengan mereka (Yer 31:31). PB menjelaskan bahwa perjanjian yang baru ini ditetapkan dengan kematian dan kebangkitan Kristus (Luk 22:20; bd. Mat 26:26-29Mr 14:22-25), dan kini digenapi di dalam gereja selaku umat perjanjian baru Allah (Ibr 8:8-13) dan akan mencapai puncak kesempurnaan dalam penyelamatan Israel yang luar biasa (Rom 11:27). Bagian-bagian lain tentang Mesias di Yeremia yang diterapkan kepada Yesus Kristus dalam PB adalah:

  1. Mesias sebagai gembala yang baik dan tunas Daud yang adil (Yer 23:1-8; lih. Mat 21:8-9Yoh 10:1-181Kor 1:302Kor 5:21);

  2. ratapan yang hebat di Rama (Yer 31:15) digenapi saat Herodes berusaha membunuh bayi Yesus (lih. Mat 2:17-18); dan

  3. semangat Mesias akan kesucian rumah Allah (Yer 7:11) ditunjukkan ketika Yesus menyucikan Bait Allah. (lih. Mat 21:13;Mr 11:17Luk 19:4).

Susunan Kitab

Kitab Yeremia tidak disusun menurut urutan kronologis. Tafsiran ini memberikan tanggal dari masing-masing bagian atau pasal, yakni waktu terjadinya peristiwa-peristiwa atau nubuat yang diberitahukan, apabila tanggal itu diketahui. Kita tidak mengetahui mengapa kitab ini disusun demikian. Semua garis besar Kitab Yeremia agak bersifat seenaknya. Garis besar yang diberikan di bawah ini berusaha memperlihatkan kesatuan kitab tersebut.

Dalam keadaan pengetahuan kita sekarang ini, mustahil kita menjelaskan berbagai keadaan waktu penulisan kitab ini. Banyak penafsir modem menganggap bagian-bagian tertentu bukan ditulis oleh Yeremia, melainkan oleh para penulis yang belakangan, yang sudut pandangnya jelas berbeda dengan sudut pandang sang nabi. Sudut pandang tafsiran ini adalah bahwa da alasan yang cukup untuk mengikuti sikap konservatif terhadap kepenulisan kitab ini – yaitu bahwa dalam keadaannya sekarang, kitab ini pada dasarnya adalah karya Yeremia dan asistennya, Barukh (bdg. Yer. 45:1).

tannya mungkin kitab ini telah mengalami beberapa kali penulisan, dan setiap edisinya memuat bahan tambahan. Cerita dalam tulisan edisi pertamanya, pemusnahannya, dan penyusunan edisi kedua, dengan penambahan, diceritakan dalam pasal 36. Tidak diragukan. ada revisi-revisi secara berturut-turut. Telah lama diketahui bahwa terjemahan Kitab Yeremia dalam bahasa Yunani, sebagaimana muncul dalam Septuaginta yang dibuat di Mesir sebelum 132 SM, jauh lebih pendek daripada kitab bahasa Ibraninya, dari mana terjemahan bahasa Inggris dibuat. Selanjutnya, Septuaginta menghilangkan banyak pengulangan yang ada pada salinan berbahasa Ibrani, dan sedikit menyusun ulang materinya. Adalah mustahil sekarang untuk mencapai kesimpulan yang pasti tentang hubungan antara Septuaginta dengan teks Ibraninya, dan tafsiran ini yang didasarkan pada Alkitab bahasa Inggris, mengikuti Kitab Yeremia bahasa Ibrani.

Musuh dari Utara. Pada seluruh khotbahnya, Yeremia menyebut tentang musuh dari utara yang akan menghancurkan Yehuda dan menawannya. Pasal 4 merupakan contoh dari nubuat-nubuat ini: Musuh itu akan menghancurkan seperti singa atau angin ribut, dan meninggalkan kerusakan di negeri itu, seperti kekacauan zaman purba. Siapakah musuh yang menghancurkan ini? Penggenapan nubuat itu menunjukkan bahwa musuh dari utara tersebut adalah Babel. Kendatipun posisi Babel pada garis lintang sama dengan Samaria, namun serangannya ke Palestina selalu datang dari utara, sebab padang gurun yang memisahkan keduanya tidak dapat dilewati. Pendapat bahwa pada beberapa tempat dalam kitab ini bangsa Skit yang disebut sebagai musuh dari utara itu tampaknya tidak akan terlalu banyak diikuti pada masa kini, sebagaimana yang pernah terjadi, dan bisa dengan aman ditolak.

Kadang-kadang, utara dipakai sebagai asal para penakluk Babel (50:3, 9, 41; 51:48). Pemakaian seperti ini dari kata tersebut sulit dijelaskan. Bangsa Persia sebagai pelaku utama yang menawan Babel, datang dari timur. Utara di sini barangkali telah menjadi suatu ungkapan untuk menunjuk setiap sumber kesusahan, dan dipakai demikian karena sejak lama kesusahan-kesusahan Israel berasal dari arah itu. Penjelasan selanjutnya bisa dilihat pada fakta bahwa bangsa Media, yang terletak di utara, bergabung dengan Babel waktu merebut Niniwe. Lihat tafsiran atas Yeremia 50:11.

Surat-surat Lakhis. Lakhis, di kaki bukit Yudea, adalah satu dari rangkaian benteng yang dibuat untuk membela Yerusalem terhadap serangan dari Dataran Mediterania. Itu merupakan satu dari kota-kota terakhir yang jatuh ke tangan bangsa Babel sebelum mereka akhirnya menguasai dan menghancurkan Yerusalem (Yer. 34:7, tafsiran). Penemuan puing-puing reruntuhan Lakhis kuno telah memberikan penjelasan menarik mengenai hari-hari keributan terakhir dari sejarah Yehuda. Ketika kota itu digali (tahun 1932 sampai 1938), ditemukan di dalam ruang jaga pada pintu gerbang luar dua puluh satu surat yang tertulis pada pecahan-pecahan tembikar. Surat-surat itu ditulis dalam tulisan (aksara) Ibrani kuno, dengan tinta besi karbon, dan bertanggal sezaman dengan Yeremia, ketika Lakhis mengalami pengepungan terakhir.

Banyak dari surat-surat ini ditulis oleh seorang yang bernama Hosaya, seorang perwira militer di suatu pos terdepan dekat Lakhis, kepada Yaos, komandan di Lakhis. Bahasanya mirip sekali dengan bahasa dalam Kitab Yeremia. Hosaya selalu membela diri di hadapan atasannya. Mungkin dia dicurigai telah menyeberang kepada bangsa Babel. Pernah dia menggambarkan salah satu dari para pemuka itu dengan kata-kata yang nyaris mirip dengan yang digunakan oleh para pemuka tersebut terhadap Yeremia (Yer. 38:4). Ada disebut tentang “sang nabi” yang pesannya adalah : “Berhati-hatilah.” Apakah ini menunjuk pada Yeremia, kita tidak mengetahui. Menurut Kitab Yeremia, ada banyak nabi pada zaman yang penuh dengan kesusahan itu. Surat lain menyebut bahwa Hosaya tidak dapat melihat isyarat asap dari Aseka, walaupun dia masih melihat isyarat asap dari Lakhis. Barangkali saat itu Aseka telah jatuh (bdg. Yer. 34:7). Walaupun arti spesifik dari banyak keterangan mengenai surat-surat ini tidak bisa kita tangkap, surat-surat itu memberikan informasi yang jelas mengenai hari-hari penuh kegelisahan dan menakutkan menjelang jatuhnya kerajaan Yehuda. (Mengenai terjemahan dari surat-menyurat ini, lihat 

Sastra dalam Kitab Yeremia. 

Para penafsir kitab ini bisa dibagi dua kelompok. Para penafsir lama umumnya menganggap nubuat adalah ilham ilahi dan menjelaskan nubuat-nubuat atas dasar itu, tetapi mereka ketinggalan dalam hal latar belakang sejarah. Mengenai hal-hal ini yang terbaik barangkali adalah tetap karya C. F. Keil, The Prophecies of Jeremiah, Edinburgh, 1883,terakhir dicetak ulang oleh penerbit Eerdmans, Keil and Delitzsch Commentaries Series.

Sebagian besar tafsiran yang lebih baru, yang menggunakan pendekatan alamiah, menganggap pesan nubuat itu berasal dari pikiran sang nabi, yang intuisi cemerlangnya merupakan bentuk ilham tertinggi. Tafsiran-tafsiran tersebut biasanya memasukkan penemuan-penemuan arkeologis terbaru sehingga memberikan orientasi yang lebih baik bagi bahan historis yang banyak jumlahnya dalam kitab ini. Artikel “Jeremiah” dalam The Interpreter’s Bible (1956), dengan pengantar dan eksegese oleh James Philip Hyatt, memperlihatkan metode ini dengan paling bagus.

Bab berjudul “The Doom of the Nation” dalam Understanding the Old Testament, oleh Bernard W. Anderson, memberikan rangkuman yang bagus tentang isi kitab ini menurut latar belakang sejarahnya, disertai gambaran yang simpatik mengenai karakter Yeremia.

Edward J. Young dalam bukunya Introduction to the Old Testament menyusun materi kitab ini menurut urutan kronologisnya, dan memberikan suatu pembahasan tentang masalah kepenulisan dari sudut pandang Kristen konservatif.

Wycliffe: Yeremia (Garis Besar)

GARIS BESAR YEREMIA

I. Nubuat Melawan Teokrasi (1:1-25:38)

      1. A. Panggilan bagi Sang Nabi (1:1-19)

      2. B. Teguran dan Peringatan-peringatan, Sebagian Besar dari Zaman Yosia (2:1-20:18)

        1. Israel Mengabaikan Allah (2:1-3:5)

        2. Yehuda Diperingatkan melalui Hukuman atas Kerajaan Utara (3:6-6:30)

        3. Praktik Agama yang Keliru di Yerusalem (7:1-10:25)

        4. Israel Ditolak karena Melanggar Perjanjian Allah (11:1-13:27)

        5. Doa Syafaat Nabi Tidak Dapat Mencegah Hukuman (14:1 -17:27)

        6. Dua Khotbah Simbolis dan Pemenjaraan (18:1-20:18)

      3. C. Nubuat-nubuat yang Belakangan (21:1 -25:38)

        1. Soal Pengepungan (21:1-14)

        2. Nasihat kepada Raja dan Rakyat (22:1-9)

        3. Nasib Salum (22:10-12)

        4. Nubuat Melawan Yoyakim (22:13-23)

        5. Nubuat Melawan Yoyakhin [Konya] (22:24-30)

        6. Mesias, sang Raja (23:1-18)

        7. Menentang Nabi-nabi Palsu (23:9-40)

        8. Penglihatan tentang Buah Ara (24:1-10)

        9. Hukuman atas Yehuda dan Semua Bangsa (25:1-38)

II. Peristiwa-peristiwa dalam Kehidupan Yeremia (26:1-45:5)

      1. A. Khotbah tentang Bait Suci dan Penahanan Yeremia (26:1-24)

      2. B. Kuk Babel (27:1-29:32)

      3. C. Kitab Penghiburan (30:1-33:26)

        1. Hari Tuhan: Kengerian dan Kelepasan pada Saat Itu (30:1-24)

        2. Pemulihan Bangsa Itu, dan Perjanjian yang Baru (31:1-40)

        3. Yeremia Membeli Ladang di Anatot (32:1-44)

        4. Janji-janji Lagi Tentang Pemulihan (33:1-26)

      4. D. Beberapa Pengalaman Yeremia sebelum Yerusalem Jatuh (34:1-36:32)

        1. Nubuat untuk Zedekia (34:1-7)

        2. Pelanggaran Perjanjian tentang Budak-budak Ibrani (34:8-22)

        3. Teladan dari Orang-orang Rekhab (35:1-19)

        4. Nubuat-nubuat Yeremia didiktekan kepada Barukh (36:1-32)

      5. E. Yeremia Selama Pengepungan dan Penghancuran Yerusalem (37:1-39:18)

        1. Yeremia Dipenjarakan (37:1-21)

        2. Yeremia Diselamatkan dari Perigi (38:1-28)

        3. Jatuhnya Yerusalem (39:1-18)

      6. F. Tahun-tahun Terakhir Yeremia (40:1-45:5)

        1. Masa Gedalya Menjadi Gubernur dan Pembunuhannya (40:1-41:18)

        2. Migrasi Para Pengungsi ke Mesir (42:1-43:7)

        3. Yeremia di Mesir (43:8-44:30)

        4. Nubuat Yeremia untuk Barukh (45:1-5)

III. Nubuat-nubuat Yeremia Tentang Bangsa-bangsa Lain (46:1-51:64)

      1. A. Nubuat Melawan Mesir (46:1-28)

      2. B. Nubuat Melawan Filistin (47:1-7)

      3. C. Nubuat Melawan Moab (48:1-17)

      4. D. Nubuat Melawan Bani Amon (49:1-6)

      5. E. Nubuat Melawan Edom (49:7-22)

      6. F. Nubuat Melawan Damsyik (49:23-27)

      7. G. Nubuat Melawan Kedar dan Hazor (49:28-33)

      8. H. Nubuat Melawan Elam (49:34-39)

      9. I. Nubuat Melawan Babel (50:1-51:64)

IV. Apendiks: Jatuhnya Yerusalem dan Peristiwa-peristiwa yang Berkaitan (52:1-34)

TAFSIR KITAB YREMIA PASAL 11

Perjanjian Allah diingkari

11:1 Firman yang datang kepada Yeremia dari TUHAN, bunyinya: 11:2 “Dengarlah perkataan-perkataan perjanjian ini dan sampaikanlah itu kepada orang Yehuda dan kepada penduduk Yerusalem! 11:3 Katakanlah kepada mereka: Beginilah firmanTUHAN, Allah Israel: Terkutuklah orang yang tidak mendengarkan perkataan-perkataan perjanjian ini, 11:4 yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu pada waktu mereka Kubawa keluar dari tanah Mesir, dari dapur peleburan besi, dengan berfirman: Dengarkanlah suara-Ku dan lakukanlah segala apa yang Kuperintahkan kepadamu, maka kamu akan menjadi umat-Kudan Aku akan menjadi Allahmu, 11:5 sehingga Aku dapat menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada nenek moyangmuuntuk memberikan kepada mereka tanah yang berlimpah-limpah susu dan madunya, seperti halnya pada waktu ini.” Lalu jawabku: “Begitulah hendaknya, ya TUHAN!” 11:6 Berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Serukanlah segala perkataan ini di kota-kotaYehuda dan di jalan-jalan Yerusalem dengan mengatakan: Dengarkanlah perkataan-perkataan perjanjian ini dan lakukanlah itu!11:7 Sebab Aku sungguh-sungguh memperingatkan nenek moyangmu, pada waktu Aku menuntun mereka keluar dari tanahMesir; sampai kepada waktu ini Aku memperingatkan mereka terus-menerus: Dengarkanlah suara-Ku! 11:8 Tetapi mereka tidak mau mendengarkan ataupun memperhatikannya, melainkan mereka masing-masing mengikuti kedegilan hatinya yang jahat; maka Aku telah mendatangkan ke atas mereka segala perkataan perjanjian ini, yang telah Kuperintahkan dipegang, tetapi mereka tidak memegangnya.” 11:9 Berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Telah terdapat persepakatan jahat di antara orangYehuda dan penduduk Yerusalem. 11:10 Mereka sudah jatuh kembali kepada kesalahan nenek moyang mereka yang dahulu telahmenolak mendengarkan firman-Ku. Mereka mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya. Kaum Israel dan kaum Yehuda telah mengingkari perjanjian-Ku yang telah Kuikat dengan nenek moyang mereka. 11:11 Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku mendatangkan ke atas mereka malapetaka yang tidak dapat mereka hindari, dan apabila mereka berseru-seru kepada-Ku, maka Aku tidak akan mendengarkan mereka. 11:12 Dan biarpun kota-kota Yehuda dan penduduk Yerusalempergi berseru-seru kepada para allah yang mereka sembah dengan korban bakaran, tetapi allah itu sama sekali tidak dapatmenolong mereka pada waktu mereka ditimpa malapetaka. 11:13 Sebab seperti banyaknya kotamu demikian banyaknya para allahmu, hai Yehuda, dan seperti banyaknya jalan di Yerusalem demikian banyaknya mezbah yang kamu dirikan untuk membakar korban kepada Baal. 11:14 Adapun engkau, janganlah engkau berdoa untuk bangsa ini dan janganlah naikkan permohonan dan doa untuk mereka, sebab Aku tidak akan mendengarkan pada waktu mereka berseru kepada-Ku karena malapetaka mereka.11:15 Apakah lagi urusan kekasih-Ku di dalam rumah-Ku, bukankah ia sudah melaksanakan rancangan-rancangan yang jahat? Dapatkah nazar-nazar dan daging yang suci melewatkan malapetaka dari padamu, sehingga kemudian engkau dapat beria-ria?11:16 Pohon zaitun yang rimbun, elok dipandang mata, pernah TUHAN menamai engkau. Tetapi dengan bunyi keributan yang hebat Ia menyalakan api pada daun-daunnya, sehingga ranting-rantingnya terbakar. 11:17 TUHAN semesta alam, yang telah membuat engkau tumbuh, telah menentukan malapetaka atasmu karena kejahatan yang telah dilakukan oleh kaum Israel dan kaum Yehuda untuk menimbulkan sakit hati-Ku dengan membakar korban kepada Baal.”

Nyawa Yeremia terancam di Anatot

11:18 TUHAN memberitahukan hal itu kepadaku, maka aku mengetahuinya; pada waktu itu Engkau, TUHAN, memperlihatkanperbuatan mereka kepadaku. 11:19 Tetapi aku dulu seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih, aku tidak tahubahwa mereka mengadakan persepakatan jahat terhadap aku: “Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya! Marilah kita melenyapkannya dari negeri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat orang lagi!” 11:20 Tetapi, TUHANsemesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku. 11:21 Sebab itu beginilah firman TUHAN tentang orang-orang Anatot yang ingin mencabut nyawaku dengan mengatakan: “Janganlah bernubuat demi nama TUHAN, supaya jangan engkau mati oleh tangankami!” — 11:22 Sebab itu beginilah firman TUHAN semesta alam: “Sesungguhnya, Aku akan menghukum mereka: pemuda-pemuda mereka akan mati oleh pedang, anak-anak mereka yang laki-laki dan perempuan akan habis mati kelaparan; 11:23tidak ada yang tinggal hidup di antara mereka, sebab Aku akan mendatangkan malapetaka kepada orang-orang Anatot pada tahun hukuman mereka.”

Yeremia 11

ayat 1-2. Tuhan menyampaikan firman melalui Yeremia:

ayat 3-5. Tuhan mengingatkan kembali bangsa Israel tentang perintah kepada nenek moyang israel ketika keluar dari Mesir, dimana kala itu bangsa Israel berteriak kepada Tuhan karena penindasan yang mereka alami sangat keras, dimana pemerintah Mesir saat itu memperlakukan bangsa Israel bagaikan budak dan tidak memiliki hak-hak kemanusiaan dan pada akhirnya Tuhan mendengarkan doa permohonan bangsa Israel kala itu dengan mengutus Musa untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dan terbebas dari semua belenggu perbudakan yang diterapkan pemerintahan Mesir kala itu. Dengan berbagai mujizat dan perlindungan, Tuhan akhirnya mengikat perjanjian dengan bangsa Israel, dimana jikalau mereka melakukan firmanNya, maka akan diberikan tanah yang berlipah-limpah susu dan madunya.

ayat 6-8 Tuhan terus-menerus mengingatkan bangsa Israel, namun bangsa Israel tidak mau mendengarkan atau memperhatikannya sebab mereka mengikuti kedegilan hati mereka. Setelah sekian lama, dimana terdapat generasi-generasi baru yang tidak mengalami peristiwa di Mesir yang sangat menyesakkan hati bangsa Israel kala itu. Ketika mereka telah lama terbebas dari belenggu perbudakan dan hidup di jaman yang demikian berbeda, mereka melupakan penderitaan dan kesedihan yang dialami oleh nenek moyang mereka di Mesir. Perjuangan dan perjalanan yang melelahkan untuk sampai kepada pembebasan tampaknya menjadi sejarah yang terlupakan oleh orang Yehuda dan penduduk di Yerusalem. Yeremia disini tampaknya mencoba untuk mengingatkan kembali peristiwa di Mesir yang di alami oleh nenek moyang mereka. Bahwa perjanjian yang diadakan saat itu adalah: nenek moyang bangsa Israel telah mengadakan perjanjian dengan Tuhan untuk mendengar dan melakukan perintah Tuhan.

ayat 9-10. Penduduk orang Yehuda dan Yerusalem telah jatuh ke dalam dosa yang sama dengan nenek moyang mereka, yaitu dengan beribadah kepada tuhan lain. Dimana kala itu dalam keluaran 32:1-35, bangsa Israel meminta Harun untuk membuat anak lembu tuangan dan beribadah kepada Tuhan lain. Hal ini membuat Tuhan sakit hati dan cemburu kepada Tuhan lain tersebut.

ayat 11. Tuhan akan mendatangkan malapetaka yang tidak dapat mereka hindari, dan apabila mereka berseru kepada Tuhan, maka Tuhan tidak akan mendengarkannya. Hal ini disebabkan mereka telah berpaling dari Tuhan dan menyembah kepada Tuhan lain.

ayat 12-13. Tuhan lain mereka yaitu baal tidak akan menolong mereka saat mereka meminta tolong.

ayat 14 Tuhan menyuruh Yeremia agar tidak berdoa untuk bangsa itu, sebab Tuhan tidak akan mendengar seruan mereka.

ayat 15-17 Bangsa Yehuda dan penduduk Yerusalem telah berselingkuh dengan tuhan lain, sehingga Tuhan menjadi cemburu kepada mereka dan akan menimpakan malapetaka, sebab yang menumbuhkan mereka adalah Tuhan, namun mereka justru menyembah kepada tuhan yang lain. Karena sakit hati, Tuhan telah menentukan malapetaka untuk menghukum mereka sebab berselinguh dengan tuhan yang lain.

Nyawa Yeremia terancam di Anatot (yer 11:18-23)

Ayat 18. Setelah mengatakan hal tersebut, orang-orang di Yerusalem menjadi sakit hati dan hendak membunuh Yeremia sebab perkataannya telah menyinggung orang banyak, dan mengadakan persepakatan diantara mereka untuk membinasakan dan melenyapkan Yeremia sehingga namanya tidak akan diingat orang lagi. Tampaknya penduduk Yerusalem telah menjadi geram dan marah karena perkataan Yeremia yang mengatasnamakan Tuhan.

Ayat 19. Orang banyak mengancam Yeremia untuk tidak bernubuat atas nama Tuhan, jika tidak Yeremia akan dibunuh oleh mereka. Menurut pengakuan Yeremia sendiri, dirinya dahulu seperti anak domba jinak yang hendak disembelih, namun Yeremia memutuskan untuk tetap bernubuat demi nama Tuhan.

Ayat 20. Yeremia meminta penghakiman yang adil kepada Tuhan semesta alam, yang menguji batin dan hati, dimana Yeremia meminta untuk dapat melihat pembalasan Tuhan kepada mereka yang menginginkan kematian Yeremia, dan menyerahkan perkara itu ke dalam tangan Tuhan.

Ayat 21. Tuhan berfirman kepada Yeremia tentang orang-orang Anatot yang ingin mencabut nyawa Yeremia sebab Yeremia bernubuat demi nama Tuhan. Mereka jengkel sebab Yeremia berkata-kata tentang Tuhan yang tidak dapat mereka lihat secara fisik dan keberadaan Tuhan tidak mereka ketahui, maka orang-orang anatot hendak menyatakan kepada Yeremia bahwa kekuatan perkataan manusia dapat lebih menjadi kenyataan daripada nubuatan atas nama Tuhan yang tidak diketahui keberadaanNya. Orang-orang anatot mungkin hendak menghentikan kecaduan Yeremia yang terus-menerus bernubuat demi nama Tuhan.

Ayat 22-23. Walaupun diancam agar tidak bernubuat demi nama Tuhan, Yeremia justru bernubuat sekali lagi demi nama Tuhan, kali ini ditujukan kepada mereka yang mengancam Yeremia untuk tidak bernubuat. Tampaknya Yeremia tidak takut terhadap ancaman orag-orang anatot dan meneruskan tindakannya untuk bernubuat demi nama Tuhan. Yeremia menubuatkan bahwa pemuda-pemuda mereka akan mati oleh pedang, sedangkan anak-anak laki-laki dan perempuan akan habis mati kelaparan, tidak ada yag tinggal hidup diantara mereka. Tuhan akan mendatangkan hukuman dan malapetaka kepada orang-orang Anatot. Tampaknya gaya penulisan Yeremia mempunyai kesamaan dengan hukuman yang dilakukan oleh Musa kala bangsa israel berbuat serong dari Tuhan, dimana Tuhan digambarkan dengan sosok yang sadis dan kejam. Seorang Tuhan yang sepertinya mengadakan pembunuhan berencana terhadap orang-orang yang menentangNya. Tiada maaf, tiada ampun, yang ada hanyalah pembalasan berupa pembunuhan dan penghilangan semua nyawa manusia yang menentangnya, kecuali bangsa Israel diberikan kelonggaran akan pengampunan dan pemulihan jika mereka hendak bertobat. Tampaknya ancaman demi ancaman akan kematian tidak wajar menjadi favorit para nabi-nabi perjanjian lama termasuk juga Yeremia, untuk menyadarkan bangsa Israel yang telah menyeleweng dari Tuhan dan berbuat dosa.

Namun memang demikianlah Tuhan Israel digambarkan oleh kitab-kitab suci perjanjian lama, sebuah ciri khas tersendiri dimana terdapat persetujuan antara Tuhan dan bangsa Israel itu sendiri. Dimana bangsa Israel telah menerima dan mengakui sosok Tuhan yang ada pada bangsa Israel.

ini adalah klipping tugas paperku

sumber: Sabda dan pelangi lotus

One response to “Kitab Yeremia dan tafsir Yeremia pasal 11”

  1. Chris says :

    bagus (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: