Kitab Yehezkiel dan tafsiran Yehezkiel pasal 27

1. Pribadi Yehezkiel.

Bahasa Ibrani: yekhezqe’l, yang berarti Adonai menguatkan. Nama ini tampil sebagai Yehezkel dalam 1 Taw 24:16. Yehezkiel putra Busi dibuang ke Babel, hampir pasti bersama raja Yoyakhin pada tahun 597 sM (2 Raj 24:14-17). Dia dimukimkan di kampung Tel-Abib dekat S Kebar. Lima tahun kemudian ia menerima panggilan untuk menjadi nabi (Yeh 1:2), mungkin setelah ia berusia 30 thn (1:1). Tafsiran ini ditolak oleh beberapa ahli tanpa mengemukakan tafsiran yg lebih baik. Sesudah menerima panggilan itu ia masih hidup paling sedikit 22 thn lagi (Yeh 29:17).

Tidak banyak yang diketahui tentang hidup Yehezkiel. Pengetahuannya mengenai Bait Suci Yerusalem dan tata ibadahnya sangat rinci, namun tidak ada bukti bahwa ia pernah bertugas di sana. Pemikirannya sangat dipengaruhi oleh perlambang keimaman, melebihi setiap nabi lainnya. Nubuat-nubuatnya yang pertama ditanggapi dengan hati yang amat tidak senang (3:25), tapi segera ia tampil dalam kedudukan terhormat (8:1; 14:1; 20:1), mungkin disebabkan oleh martabat keluarganya. Mayoritas Israel tidak menyambut amanatnya. Istrinya meninggal tiba-tiba pada waktu raja Nebukadnezar mengepung Yerusalem (24:1, 2, 15-18). Tidak ada data apakah ia dikaruniai anak.

Berbagai usaha telah diupayakan untuk membuktikan bahwa Yehezkiel adalah seorang psikopat. E.C. Broome, yang menulis dalam “Ezekiel Abnormal Personality” (JBL, 65 [1946], hlm. 272-292), . mendiagnosanya sebagai terganggu oleh katatonik atau schizofrenia paranoid! Howie secara seksama telah membandingkan apa yang disebutnya bukti untuk penyakit schizofrenia Yehezkiel dengan kesamaan-kesamaan antara Yehezkiel dan penganut aliran mistik lainnya (“Psychological Aspects of Ezekiel and His Prophecy,” op. cit., hlm. 69-84). Dia menunjukkan betapa tidak masuk akalnya bagi seorang siswa psikiatri non-profesional untuk. menyatakan diri berhasil melakukan psikoanalisis terhadap seorang yang telah meninggal selama 2500 tahun!

Beberapa tindakan profetis Yehezkiel dianggap aneh, atau paling tidak asing, oleh orang-orang sezamannya: ia memakan gulungan kitab (3:1-3); di depan gambar kasar dari Yerusalem yang buruk dalam pengepungan, ia berbaring ke sisi kiri selama 390 hari untuk menyatakan hukuman atas Israel, dan 40 hari ke sisi kanan, untuk menyatakan hukuman atas Yehuda. Ia mencukur kepala dan wajahnya, serta menimbang rambutnya, kemudian membaginya menjadi tiga untuk melambangkan bagaimana penduduk akan mengalami penderitaan dengan tiga cara. Ia menderita kebisuan dalam waktu lama sebelum 586. Ketika istrinva tiba-tiba mati, ia menolak untuk meratap sebagaimana yang ditentukan adat.

Howie berkata: “Yehezkiel … pada dasarnya adalah seorang penganut aliran mistik dengan suatu imajinasi yang sensitif dan artistik yang menghasilkan beberapa penglihatannya yang terkenal dan kata-kata kiasan simbolis dalam sastra Alkitab … Dia berperilaku sangat berbeda dengan `norma’ tetapi dia tidak benar-benar menderita psikopat. Tidak ada nabi yang normal, kalau tidak dia tentu tidak akan menjadi seorang nabi. Keanehan atau ketidaknormalan Yehezkiel tampaknya merupakan rahasia dari kebesarannya” (ibid., hlm. 84).

Nabi Yehezkiel disebut sebagai “orang pertama yang mengekspresikan dogma secara kuat dalam Perjanjian Lama,” “Calvin Perjanjian Lama,” “orang yang paling berpengaruh dalam seluruh perjalanan sejarah Ibrani,” “bapak Yudaisme,” “nabi dengan tanggung jawab pribadi,” dan lain-lain. Orang yang secara serius menyelidiki Kitab Yehezkiel bisa dengan mudah melihat bagaimana pujian-pujian semacam itu bisa digunakan untuk imam, nabi, dan gembala ini.

Bagaimanapun juga dari dalam kitabnya Yehezkiel tampil sebagai seorang tokoh besar. Ia adalah seorang imam, Yeh 1:3. Sebagian besar perhatiannya berpusat pada Bait Suci, yang pada waktu hidupnya dicemarkan dengan upacara-upacara di luar yahudi, Yeh 8, dan ditinggalkan oleh kemuliaan Tuhan, Yeh 10. Tetapi Yehezkiel berbicara pula mengenai bait Suci di masa depan. Ia membuat rencana terperinci mengenai bentuk bangunan bait Suci itu, Yeh 40-42, yang akan didiami Allah lagi, Yeh 43. Yehezkiel menjunjung tinggi hukum Taurat. Maka dalam membentangkan sejarah ketidak-setiaan umat Israel, Yeh 20, berulang kali ia melontarkan tuduhan berupa ulangan ini: “mereka telah melanggar kekudusan hati SabatKu”. Yehezkiel merasa tidak senang terhadap segala sesuatu yang najis menurut hukum Taurat, Yeh 4:14, dan dengan saksama ia memisahkan yang kudus dari yang tidak kudus, Yeh 45:1-6. Selaku imam Yehezkiel memecahkan soal-soal hukum dan masalah-masalah moril yang diajukan kepadanya, sehingga ajarannya sering bernada kasuistik, Yeh 18. Gagasan-gagasan Yehezkiel serta kosa-kata yang dipakainya berdekatan nadanya dengan Hukum Kekudusan, Im 17-26. Tidak dapat ditentukan sejauh mana Yehezkiel mengambil inspirasi dari Hukum Kekudusan itu atau sejauh mana Hukum tsb bergantung pada Yehezkiel. Memang kesamaan antara Yehezkiel dan Hukum Kekudusan yang paling menyolok justru terdapat dalam bagian-bagian Yehezkiel yang berasal dari tangan penyusun kitab tsb. Dengan tenang hanya dapat disimpulkan, bahwa kedua karya tsb terpelihara dalam lingkungan-lingkungan yang sangat berdekatan pemikirannya karya Yehezkiel termasuk “tradisi para Imam”, seperti karya Yeremia berpautan dengan “tradisi kitab Ulangan”.

Selain seorang imam, Yehezkiel juga seorang nabi yang berbuat. Lebih banyak dari pada nabi-nabi lainnya ia melakukan perbuatan-perbuatan yang berupa lambang. Ia memainkan pengepungan Yerusalem, Yeh 4:1-5:4, keberangkatan kaum buangan ke Babel, Yeh 12:1-7, raja Babel di persimpangan jalan, Yeh 21:19 dst, dan pemersatuan Yehuda dan Israel, Yeh 37:15 dst. Sama seperti nabi Hosea dan Yeremia, demikianpun Yehezkiel sampai dalam percobaan pribadi yang menurut kehendak Allah mendatanginya menjadi sebuah lambang bagi Israel, Yeh 24:24. Hanya perbuatan-perbuatan Yehezkiel yang berupa lambang itu jauh lebih berbelit- belit dari pada perbuatan-perbuatan sederhana yang dilakukan pendahulu-pendahulunya.

Namun Yehezkiel terutama seorang pelihat. Meskipun kitab Yehezkiel sebenarnya hanya berisikan empat buah penglihatan, namun penglihatan-penglihatan itu diceritakan dengan panjang-lebar, Yeh 1-3; 8-11; 37; 40-48. Penglihatan- penglihatan itu membuka sebuah dunia gaib: empat binatang yang terpasang pada kereta Tuhan; tarian keagamaan dalam Bait Suci yang penuh dengan macam-macam hewan dan berhala; tulang-tulang yang bertaburan di sebuah lembah, lalu hidup kembali; Bait Allah di masa mendatang yang seolah-olah digariskan pada papan gambar seorang ahli bangun-bangunan dan yang dari padanya mengalirlah sebuah sungai gaib di daerah yang gaib pula. Daya khayal itupun menghasilkan gambar- gambar berupa lambang yang dilukiskan Yehezkiel: dua perempuan bersaudara, Oholiba, Yeh 23; kota Tirus yang bagaikan kapal karam, Yeh 27; sang buaya yang melambangkan Firaun, Yeh 29 dan 32; pohon raksasa yang mengibaratkan Firaun, Yeh 31, dan turunnya Firaun ke dalam dunia orang mati, Yeh 32.

Daya seni Yehezkiel terletak dalam ukuran gambar-gambar timbulnya yang seolah- olah menciptakan suasana rasa segan yang suci di hadapan Allah yang rahasia. Walaupuan dalam banyak hal menyerupai nabi-nabi yang terdahulu, namun Yehezkiel membuka jalan yang baru. Ajarannyapun khas dan agak baru. Ciri khas yang paling menonjol ialah: Yehezkiel memutuskan hubungan dengan masa lampau bangsanya. Sepintas lalu ia memang menyinggung janji-janji Allah kepada para bapa bangsa serta Perjanjian yang diadakan di gunung Sinai. Akan tetapi, menurut Yehezkiel, bila Allah masih sampai sekarang melindungi dan menyelamatkan umatNya yang berdosa sejak awal-mula itu, Yeh 16:3 dst, maka sebabnya bukanlah karena Allah mau memenuhi janji-janjiNya, melainkan karena Allah membela NamaNya yang kudus, Yeh 20; bila Allah terpaksa mengganti perjanjian lama dengan sebuah perjanjian, Yeh 16:60; 37:26 dst, maka maksudNya bukanlah untuk mengganjar umatNya yang bertobat. Perjanjian baru itu adalah sebuah karunia kerelaan Allah belaka, sebuah karunia yang mendahului bertobatnya umat Israel, Yeh 16:62-63.

Kitab – Penulis dan Kesatuan. Kitab tersebut, kecuali untuk penjelasan redaksional, oleh sebagian besar ahli dianggap sebagai berasal dari Yehezkiel di gôlâ Babel; tetapi para ahli modern sering kali menentang soal kesatuan dan penulis tunggal Bari kitab ini.

Dalam bukunya Theologische Studien and Kritiken (1877), H Klostermann berdasarkan bagian-bagian seperti :23-4:8menunjukkan bahwa Yehezkiel sakit saraf, penyakit yang disebut katalepsi. Pendapat ini walaupun pernah populer, sekarang tidak diterima lagi. Ada perbedaan tafsir mengenai tindakan-tindakan Yehezkiel yang jelas berupa lambang. Ada, seperti yang menganggap bahwa tindakan itu terjadi hanya dalam pikiran nabi Yehezkiel saja. Umumnya diterima bahwa tindakan tersebut benar-benar dilaksanakan, tapi perlu ditafsirkan secara kiasan. 

Lewat sebuah wahyu, ia dipanggil menjadi nabi dan ia umumkan kehancuran kota Yerusalem yang sudah dekat lewat banyak ancaman hukuman dan perbuatan-perbuatan simbolis. Apabila kota Yerusalem benar-benar dihancurkan oleh Nebukadnezar pada tahun 586, barulah para buangan lebih menaruh pengertian pada pekerjaan Yehezkiel. Bagian kedua dari pewartaannya (Yeh 25:1-38:23) mengungkapkan harapan akan pemulangan mereka kembali dan datangnya waktu keselamatan yang gemilang. Para musuh akan memperoleh putusan hukuman. Nampaknya Yehezkiel meninggal di Babilon. Di luar beberapa laporan yang masih dipertentangkan. Ia adalah penulis kitab yang menggunakan namanya dan menjadi judulnya.

Nabi ketiga dari nabi-nabi besar dalam PL. Yehezkiel hidup sezaman dengan Yeremia, namun lebih muda dan dipengaruhi olehnya. Ia adalah seorang imam (Yeh. 1:3) dan seorang nabi (11:4) di pembuangan. Menurut (Yeh. 1:1-3), Yehezkiel berada di antara kelompok pertama orang-orang Yahudi yang dibuang ke Babel, pada 597 sM. Namun, terdapat beberapa alasan untuk menduga bahwa hal ini merupakan catatan editorial, dan bahwa pesan Yehezkiel kepada Yehuda disampaikan di tempat, tidak dari Babel yang jauh. Yehezkiel sangat mengetahui keadaan Yehuda, dan khotbah-khotbahnya ditujukan kepada masyarakat yang hidup di sana. Beberapa sarjana mengusulkan bahwa Yehezkiel memang pergi ke Babel, namun kembali ke Yerusalem untuk memberitakan malapetaka yang akan menimpa kota itu, hingga direbut pada 586 sM, ketika, sebagaimana diduga, ia ditangkap lagi dan dibawa ke Babel untuk kedua kalinya.

Kemungkinan yang lain, diduga bahwa Yehezkiel masih berada di Yerusalem untuk sebagian besar karier profetisnya. Namun, pada 586 kemungkinan pergi ke Babel, atau — sebagai modifikasi teori ini — ia tetap tinggal di Yehuda, tetapi bagian-bagian dari tulisan yang tampaknya berasal dari pembuangan di Babel dapat dianggap berasal dari editor kemudian hari.

Hal ini merupakan cara untuk menyampaikan pesannya mengenai kehancuran yang akan terjadi atas Bait Allah yang lebih tragis (Yeh. 24:15-18). Yehezkiel mengerti sejarah bangsa Israel dari sejak masa Keluaran sebagai cerita ketidaktaatan (20:1-18). Namun, ketika Yerusalem telah dihancurkan dan perkataannya terpenuhi, ia berbalik pada pengharapan ke masa depan. Adonai tidak senang atas kematian orang-orang jahat, dan berkehendak memulihkan mereka pada kehidupan, termasuk mereka yang berada di pembuangan (33:11-20). Dengan demikian, Yehezkiel dapat meramalkan pemulihan umat Israel di masa depan di negaranya sendiri. Di sana akan ada kedamaian dan rasa aman, dan Tuhan akan kembali ke tempat suci (43:4-7) yang telah ditinggalkan-Nya (10:18 dan 11:23). Adonai Yehezkiel adalah Adonai yang transenden sepenuhnya, dan bertindak menurut apa yang baik bagi-Nya (Yeh. 36:22) untuk membenahi umat-Nya (36:26). Meskipun demikian, mereka dituntut untuk menjawab karunia Adonai itu. Setiap individu bertanggung jawab dan memiliki kebebasan. Dalam PL tidak seorang pun dengan begitu bersemangat menegaskan realitas tanggung jawab ini (18:20).

2. Isi Pokok Kitab Yehezkiel

Isinya memuat berita tertulis dalam bentuk “aku” mengenai pengalaman kenabian Yehezkiel. Berita itu adalah: “Sabda-sabda Adonai (Yeh 1:3) yang didengarnya dan “penglihatan illahi” (Yeh 1:1) yang dilihatnya. Apakah kitab yang menyatakan bahwa ditulis sebagai autobiografi Yehezkiel dan ditulis dalam tahanan itu merupakan sebuah kesatuan yang otentik? Apakah dikemudian harinya kitab itu tidak diolah kembali, ataukah kitab itu adalah sebuah biografi buatan? (pseudepigraf?). Jawabannya belum bisa dipastikan. Kitab Yehezkiel menjadi salah sebuah Kitab PL yang paling sukar. — Theologi Kitab Yehezkiel itu sama seperti, theologi dari tulisan para imam (sumber KI). Transendensi Adonai ditekankan di situ: SifatNya yang paling menonjol adalah kekudusanNya yang hakiki. Tujuan dari karya keselamatanNya adalah sebuah manifestasi atau pemurnian kembali kekudusan itu. Oleh sebab itu ditonjolkan gagasan tentang pilihan (bukan panggilan).

Atas dasar pilihan yang dibuat Adonai di tengah bangsa-bangsa lain itu: Israel boleh menarik kesimpulan yang pasti, bahwa semua akan diarahkan pada kebaikanNya (Yeh 16:55) dan bahwa Tuhan akan membuat sebuah perjanjian dengannya. Pada saat itu Israel akan menjadi satu bangsa dibawah satu gembala (Yeh 37:22) dan Adonai akan memilih tempat-tinggalNya di tengah mereka untuk selama-lamanya. Perwujudan gembala itu hendaknya dipandang sebagai karya keselamatan di dalam sejarah dan bukannya sebagai pandangan mengenai seorang Mesias. Hal itu juga tetap berlaku, meskipun Yesus (Yoh 10:11-16) di dalam hubungannya dengan Yeh 34:11-23 dipandang sebagai gembala yang baik. Justru oleh pandangan yang berat-sebelah itu (misalnya saja peranan kurang diperhatikan) maka gambaran tentang Adonai pada Yehezkiel itu mengesankan sekali.

 2. Maksud Penulisan

Kerajaan Yehuda terperangkap dalam persaingan kekuasaan antara Mesir dan Babel. Babel akhirnya berhasil menduduki Yehuda dan mengambil alih Yerusalem pada tahun 597 SM. Beberapa pemimpin Yehuda termasuk Raja Yoyakhin dan nabi Yehezkiel sendiri ditawan dan dibuang ke Babel. Yehuda memberontak terhadap Babel, lalu Nebudkanezar , raja Babel mengutus tentaranya untuk menghentikan pemberontakan itu, sekaligus menghancurkan Yerusalem beserta Bait Sucinya. Penduduk yang diangkut jauh lebih banyak dari sebelumnya. Pertanyaan mengenai mengapa Tuhan membiarkan malapetaka itu terjadi; terjawab oleh Yehezkiel tentang penglihatan yang diterima Yehezkiel, dimana Yerusalem telah beribadat kepada ilah bangsa-bangsa lain, dan mereka lebih suka mengandalkan kekuatan raja-raja daripada kekuatan Tuhan. Hidup mereka tidak lagi sesuai dengan hukum taurat, dan Tuhan telah meninggalkan kemuliaanNya, sehingga Bait suci di Yerusalem Ia tinggalkan kosong dan diserbu serta ditaklukan oleh bangsa Babel.2

 3. Latar Belakang Penulisan

Berdasarkan tanggal yang ditulis oleh Yehezkiel, diperkirakan Ia berkarya sebagai nabi pada tahun 593 SM. Pada waktu Yehezkiel menerima penglihatan yang pertama ia berada di sungai Kebar di Babel. Setelah Yerusalem direbut Babel, ia dan keluarga meninggalkan Yerusalem dan menetap di Babel sebagai kaum buangan. Pada saat yang sama, Raja Babel mengangkat Yedezia, paman Yoyakhin sebagai raja di Yehuda. Pada mulanya Yedekia setia kepada Babel, namun akhirnya ia memberontak kepada Nebudkanesar. Akibatnya, untuk kedua kalinya Nebudkanesar menghancurkan Yerusalem dan Bait Sucinya (587 SM). Sebagian besar nubuatan Yehezkiel disampaikan antara tahun 593 SM dan 586 SM. Nubuatan Yehezkiel tenang jatuhnya kota Tirus disampaikan sesudahnya (571SM). 3

4. SUSUNAN PENULISAN

Bentuk akhir kitab Yehekiel disusun rapi dan teratur dengan tanggal yang jelas. Pasal 1-32 berisi nubuatan Yehezkiel tentang hukuman dan malapetaka yang menimpa Yehuda dan bangsa-bangsa lain. Pasal 33-48 lebih menyoroti tindakan Tuhan untuk memulihkan Yehuda dan mengantar umatNya menuju masa depan yang baru dan cemerlang. Kitab Yehezkiel dibagi dalam dua bagian utama dimana bagian pertama berisi tentang penjaga umat Israel, dimana mnceritakan Yehezkil menjadi bisu dan disembuhkan kembali (3:22-27), dan permulaan bagian kedua menceritakan ia disembuhkan kembali (33:22). Susunan kitab Yehezkiel dapat dilihat sebagai berikut:

Imam yang dipanggil sebagai nabi kepada orang-orang buangan (dalam Yeh 1:1-3:66).

Penglihatan:

takhta TUHAN (dalam Yeh 1:1-22);
kekejian di dalam Bait TUHAN (dalam
 Yeh 8:1-18);
kemuliaan TUHAN meninggalkan Bait Suci (dalam 
Yeh 10:1-22);
lembah penuh dengan tulang-tulang (dalam 
Yeh 37:1-28);

Bait Suci yang baru (dalam Yeh 40:1-48:35).

Nubuat:

melawan Israel (dalam Yeh 4:1-7:27; 11:1-12:28; 14:1-24:27; 33:1-33);
melawan nabi-nabi palsu (dalam
 Yeh 13:1-23; 34:1-31);
melawan bangsa-bangsa (dalam
 Yeh 25:1-32:32; 35:1-15; 38:1-39:29);
tentang pembaharuan Israel (dalam
 Yeh 11:14-20; 34:1-31; 36:1-38; 39:25-29).

Susunan pada bagian kedua menurut beberapa pakar tampaknya ditulis sesudah Jaman nabi Yehezkiel.4

Tafsir Kitab Yehezkiel 27 : Nyanyian ratapan mengenai Tirus

1. Tirus

Bandar laut utama di pantai Fenisia, kr 38 km sebelah selatan Sidon dan 53 km sebelah utara G Karmel. Namanya dalam bahasa Ibrani tsor; Asyur Sur(r)u; Mesir daru; Yunani Tiros. Tirus melingkupi dua pelabuhan, satu yg terletak di sebuah pulau, yg lain, yg disebut ‘Lama’, terletak di jazirah dan mungkin inilah yg disebut Ussu dalam tulisan ukir Asyur. Tirus diairi oleh S Litani, dan mendominasi dataran sekitarnya di mana terletak Sarepta. 5

2. Sejarah Tirus

Menurut Herodotus 2.44 Tirus didirikan kr thn 2700 sM. Tapi nama Tirus tidak disebut dalam daftar kota yg ditaklukkan oleh Tutmoses III kr thn 1485 sM, dan karena itu beberapa ahli menganggapnya belum didirikan sebagai koloni Sidon pada waktu itu. Namun Tirus nampaknya sudah sejak dini aktif dalam perdagangan laut, baik dagang barang-barang biasa maupun barang-barang mewah dengan Mesir. Keinginan menguasai kegiatan dagang ini mendorong Mesir menyerbu pantai Fenisia. Selama zaman Amarna penguasa setempat di Tirus, yaitu Abimilki, tetap setia dan mengirim surat kepada raja Mesir, Amenofis III. Ia melaporkan pengkhianatan kota-kota di sekitarnya, lalu meminta bantuan melawan Aziru raja Amori dan raja Sidon. Waktu orang Filistin menjarah Sidon (kr 1200 sM), penduduknya banyak yg lari ke Tirus, yg pada saat itu menjadi bandar utama Fenisia dan disebut ‘putri Sidon’. Menjelang akhir milenium 2 sM Tirus terhitung sebagai kota berkubu dengan pertahanan yg kuat, dekat perbatasan tanah yg ditentukan menjadi milik pusaka suku Asyer (Yos 19:29) dan nama baik ini terus dipertahankan (bnd 2 Sam 24:7).

Dengan pudarnya kejayaan Mesir, Tirus merdeka, dan penguasa-penguasanya menguasai kebanyakan kota pantai Fenisia, termasuk daerah pedalaman Libanon. Raja Hiram I menjadi sahabat raja Daud dan menyediakan bahan-bahan untuk membangun istana raja di Yerusalem (2 Sam 5:111 Raj 5:11 Taw 14:1). Politik persahabatan ini tetap dia pertahankan sepanjang pemerintahan raja Salomo. Raja Hiram mengirim kayu dan batu untuk membangun Bait Suci (1 Raj 5:1-122 Taw 2:3-16) sebagai imbalan bahan pangan dan keuntungan-keuntungan wilayah6 (1 Raj 9:10-14). Orang-orang Tirus, termasuk seorang juru tuang perunggu disebut Hiram membantu dalam proyek-proyek pembangunan Salomo (1 Raj 7:13-14).

Hiram I menghubungkan bandar di jazirah dengan bandar yg di pulau itu melalui jalan urukan, lalu ia mendirikan di pulau itu sebuah kuil yg dipersembahkan kepada dewa Melkart dan dewi Astarte. Sebagai bagian dari politik ekspansi dan politik dagangnya, ia membantu Salomo mengembangkan bandar Ezion-Geber di Laut Merah untuk memuluskan pelayaran ke arah selatan (1 Raj 9:27), dan kapal-kapalnya mencapai tempat-tempat yg jauh (1 Raj 9: 28). Sejak saat ini, yg sering disebut ‘zaman emas Tirus’, orang Tirus menjadi raja-raja dagang di timur Laut Tengah (Yes 23:8), dan terkenal karena keberanian mereka mengarungi laut (Yeh 26:17; 27:32). Barang niaga utama mereka ialah kaca buatan mereka sendiri, dan bahan celup khas warna kirmizi yg disebut ‘warna, Tirus’ yg dibuat dari kerang-kerangan setempat.

Sumber utama untuk daftar raja-raja Tirus masih Kanon dari Ptolemi, tapi walaupun sejarah Tirus dapat dikoordinasikan dengan sejarah Asyur dan Israel, masih ada perbedaan kr 10 thn mengenai tarikh dari penguasa-penguasa terdahulu. Jadi pemerintahan Hiram I ditentukan kr thn 979-945 sM; bnd tarikh Albright, 969-936 sM. Menggantinya Baal(m)azzar I (= Balbazeros) diganti oleh Abd-Asytar yg dibunuh oleh kakak adiknya, dan yg tertua dari mereka Metus-Astartus, merebut takhta. Feles yg mengganti Astarumus kr thn 897 sM, digulingkan oleh imam besar Etbaal (Itobal) yg putrinya, Izebel, dikawinkan dengan Ahab raja Israel, untuk mengokohkan persekutuan negeri-negeri mereka (1 Raj 16:31). Etbaal sebaya juga dengan Ben-HadadI. Kemenangannya menggulingkan Feles barangkali bisa dihubungkan dengan penyerbuan Asyurnasirpal II, raja Asyur, yg menerima upeti yg besar dari Tirus.

Tirus menderita pukulan thn 841 sM, tatkala Salmaneser III raja Asyur, pada thn ke-18 pemerintahannya, menerima upeti dari Ba’alimanzar serentak waktu. Yehu memberi dia penghormatan di Nahr el-Kelb (Sumer 7, 1972, 3-21). Raja Baalezer II diganti oleh raja Meten I (829-821 sM) dan oleh Pygmalion (Pu’m-yaton). Pada thn ke-7 pemerintahannya — ia dari Tirus — mendirikan kota Kartago di Afrika Utara (825 atau 815 sM). Tekanan Asyur terhadap Fenisia berjalan terus, dan Tirus membayar upeti kepada Adad-Nirari III thn 803 sM; raja Tirus, Hiram II, mengirim pemberian-pemberian kepada Tiglat-Pileser III, dan raja itu menyatakan bahwa Rabsyake-nya (seorang pejabat tinggi) menerima 150 talenta emas dari Meten II, yaitu raja Tirus yg mengganti Hiram II. Dengan jalan demikian Tirus tetap mempunyai otonomi yg lumayan. Menurut Yosefus, Salmaneser V raja Asyur (kita tidak punya catatan-catatan raja itu) mengepung Tirus thn 724; Tirus jatuh bersama Samaria ke tangan Sargon II thn 722 sM. Petugas-petugas Asyur setempat mengawasi pembayaran bea-bea barang ke Niniwe, dan kerusuhan ditimbulkan oleh Mesir, yg daripadanya orang Tirus minta bantuan. Hal ini menyebabkan Tirus dicela keras oleh para nabi Israel; oleh Amos, karena menyerahkan tawanan Ibrani kepada Edom (1:9), dan oleh Yoel (3:5-6), karena menjual orang Yehuda dan orang Yerusalem sebagai budak kepada orang Yunani. Tirus kemudian dikuasai oleh orang Sidon, dan tatkala Sanherib bergerak mendekati Tirus, rajanya Luli (Elulaeus) lari dan meninggal di pembuangan. Hal ini menyelamatkan Tirus dari serangan, dan orang Asyur melantik calon mereka, yaitu Tuba’alu (Etbaal III) pada thn 701 sM sebagai raja.

Esar-Hadon dari Asyur yg menjaga supaya jalan tetap terbuka untuk menyerang Mesir, menghukum mati Abdi-Milkiti raja Sidon (kr 677 sM) dan memberi takhta kepada Ba’ali I, dengan membuatnya terikat kepada Asyur melalui suatu perjanjian. Tapi Tirus yg dihasut oleh Tirhaka raja Mesir, memberontak dan Esar-Hadon mengepung Tirus, yg haru pada thn 664 menyerah kepada Asyurhanipal: raja itu menobatkan Azi-Baal menjadi raja, sambil mengambil kakak adiknya perempuan beserta banyak petugas lainnya sebagai sandera ke Niniwe. 7

Dengan kemunduran Asyur pada akhir pemerintahan Asyurbanipal (kr 636-627 sM), Tirus mendapat otonominya kembali dan juga bagian terbesar dari kegiatan dagang lautnya yg dulu. Kendati demikian nabi Yeremia menubuatkan (Yer 25:22; 27:1-11) bahwa Tirus akan tunduk kepada Babel; di kemudian hari Yehezkiel (Yeh 26:1; 28:19; 29:18-20) dan Zakharia (9:2 dsb) menubuatkan hal yg sama. Nebukadnezar II mengepung Tirus selama 13 thn (kr 587-574 sM) (Jos., Life 1.21, JBL 51, 1932, hlm 94 dab), tapi tak ada tertinggal catatan dari zaman itu mengenai hal ini (bnd Yeh 28:18-20). Akhirnya Tirus pada pemerintahan Baali II mengakui keunggulan kekuasaan Babel, dan beberapa perjanjian Babel membenarkan hal ini dan memaparkan nama-nama petugas Babel setempat. Selama masa 10 thn kota itu diperintah oleh ‘hakim’ (spt).

Pada thn 332 sM bandar yg di pulau itu dikepung oleh Iskandar Agung selama 7 bln; ia menaklukkannya hanya dengan membangun jalan urukan ke benteng pulau itu. Kendati Tirus menderita banyak kehilangan, namun segera bandar itu bangkit kembali di bawah perlindungan raja-raja Seleukus. Herodes I membangun kuil utama kembali, yg masih berdiri pada waktu Yesus mengunjungi daerah perbatasan Tirus dan Sidon (Mat 15:21-28Mrk 7:24-31). Orang-orang Tirus mendengar Dia berbicara (Mrk 3:8Luk 6:17) dan Ia menyebut Tirus sebagai kota kafir, namun akan memikul hukuman yg lebih kecil daripada yg menimpa kota-kota Galilea yg terus-menerus menyaksikan pelayanan-Nya (Mat 11:21-22Luk 10:13-14). Orang Kristen sangat aktif di Tirus pada abad I (Kis 21:3-6) dan di sanalah dikuburkan Origenes pada thn 254 M.8

3. Arkeologi Tirus

Bagian utama dari reruntuhan yg ada berasal dari masa takluknya Tirus pada Perang Salib (1291 M). Tapi penggalian-penggalian pada tahun 1921 (Syria 6, 1922) dan 1937 di pelabuhan Tirus, sudah menurunkan sebagian fondasi zaman dulu. Tapi mata uang yang banyak yang ditempa di Tirus sejak abad 5 sM dan seterusnya, yang ditemukan di banyak tempat di seluruh Asia Barat Lama dan Laut Tengah, menyaksikan kebesarannya.

‘Tangga Tirus’ yang menurut Yosefus (BJ 2.188) menandai batas pembagian Fenisia dengan Palestina yang sebenarnya (1 Makabe 11:59), lazim dianggap sama dengan tanjung berbatu yang menganjur di Ras en-Naqara atau Ras el-’Abiad.9

Tafsiran ayat:

ayat 1-2. Yehezkiel disuruh Tuhan untuk mengucapkan nyanyian ratapan mengenai Tirus yang berdagang dengan bangsa-bangsa dibanyak daerah pesisir: menandakan pembangunan dan pengerahan tenaga pekerja untuk kapal itu.

ayat 3-11 Tirus adalah kapal yang maha indah, wilayahnya ditengah lautan, ahli bangunannya membuat kendahan Tirus sempurna, kapalnya terbuat dari kayu sanobar Senir, tiang layarnya dari aras Libanon, dayungnya terbuat dari pohon Terbantin dari Basan, geladaknya terbuat dari gading, dengan ditatakan cemara dari pantai Kitim, Layarnya terbuat dari lenan halus yang berwarna-warni dari tanah Mesir, tendanya dibuat dari kain ungu tua dan muda dari pantai Elisa, orang Sidon dan dan Arwad menjadi pendayung, tukang-tukang dan pelaut dari Tirus, tua-tua Gebal yang ahli memperbaiki kerusakan kapal, kapal-kapal lain hendak menukarkan barang dagangan, Orang Persia, Lud, dan Put menjadi prajurit kapal. Orang Arwad dan Gamad ada diatas menara jaga. Menandakan sebuah kapal yang megah dan indah, pekerjaan karya besar yang dikerjakan oleh manusia, dan menandakan kehebatan manusia yang dapat mengerjakan sebuah kapal yang megah dan indah yang dikagumi oleh orag-orang yang melihatnya termasuk para raja-raja sekalipun.

Damsyik.

a. Nama

Arti Damsyik (Yunani Damaskos; Ibrani Dammeseq; Aram Darmeseq; 1 Taw 18:5; 2 Taw 28:5) tidak diketahui. Istilah ‘aram darmeseq pada 1 Taw 18:6 sesuai dengan istilah modern: Dimasyk-esy-syam, yaitu ‘Damsyik di Utara (Siria)’, Nama itu terdapat dalam bh Mesir Tjmsqw (Tutmosis dan dalam Surat-surat Amarna (abad 14) dalam bentuk Dimasyqi. Nama-nama lain yg terdapat dalam naskah ter, akhir ialah sya imerisyu (barangkali ‘kota kafilah’) dan Bit-Haza’-ili (‘Rumah Hazael’) pada abad 8 sM 10

Damsyik terletak pada tanah datar yang subur dan kaya akan air (2Raj 5:12; Yer 49:24-25). Kota Damsyik terletak di daerah strategis pada jalan-jalan kafilah yang besar. Nama kota Damsyik sudah disebut dalam naskah Mesir dan Asyur yang terkuno, maupun dalam surat-surat Amarna. Sejak zaman raja Daud, waktu Damsyik menjadi negara Aram yang kuat, sejarah Damsyik berkembang bersama-sama dengan pergolakan kerajaan Israel Para rajanya (Misalnya: Ben Hadad) sering disebutkan dalam naskah-naskah dari waktu awal para raja. Kota Damsyik juga sering disebut oleh para Nabi (Yes 17:1-3; Yer 49:23-27; Yeh 27:18; Amos 1:3-5 dbtl). Tiglat-Pileser III merebut Damsyik pada tahun 734 bagi kemenangan bangsa Asyur (2Raj 16:9). Puncak perkembangan kota itu terjadi pada zaman kekuasaan orang-orang Persia. Pada zaman para Seleukid. Damsyik memainkan peran yang besar. Setelah Damsyik direbut bangsa Romawi, kota itu dimasukkan ke dalam kelompok Dekapolis dan kehilangan kebebasan politiknya. Pada zaman Rasul Paulus banyak orang Yahudi tinggal di Damsyik. (Bdk.: Kis 9:2-25; 22:5-16; 26:12-20 dan lain-lain). “Jalan yang lurus” menjadi terkenal karena Paulus tinggal di situ di rumah Yudas (Kis 9:11). Jalan itu merupakan jalan yang indah yang membujur dari arah timur menuju ke arah barat. Dewasa ini jalan itu adalah sebuah gang pertokoan yang sempit.

b. Letaknya

Ibukota Siria (Yes 7:8) terletak di sebelah timur pegunungan Anti Libanon. Kota itu dinaungi oleh gunung Hermon (Kid 7:4). Letaknya di sebelah barat laut dari dataran Guta, kr 776 m di atas permukaan laut dan di sebelah barat padang gurun Siria Arabia. Daerah ini termasyhur karena kebun pohon-pohonan dan kebun-kebun lain, yang diairi oleh S Abana yg bening (mod Barada) dan S Parpar di sekitarnya, yg lebih baik dibandingkan S Yordan yg arus airnya lambat dan berlumpur, dan S Efrat (Yes 8:5-8).

Kota itu merupakan pusat komunikasi alami yg menghubungkan jalan kafilah ke tepi pantai Laut Tengah (kr 100 km ke sebelah timur) melalui Tirus (Yeh 27:18) ke Mesir, dengan jalan-jalan ke sebelah timur menerobos padang gurun ke Asyur dan Babel, ke sebelah selatan ke Arabia, dan ke sebelah utara ke Alepo. Damsyik mempunyai kedudukan istimewa sebagai pimpinan dari kerajaan Aram pada abad 10-8 sM. Pusat kota Damsyik modem yg sebagian menutupi kota lama, berada di tepi S Barada. Salah satu jalannya yg adalah jalan kuno, melintang dari barat laut ke tenggara, bernama Jalan Lurus (Darb al-mustaqim) atau Jalan Panjang (Suq al-Tawileb) seperti dalam Kis 9:11. Mesjid Besar yg dibangun pada abad 8 M konon meliputi tempat letaknya kuil Rimon (2 Raj 5:18).

c. Sejarah

Agaknya Damsyik telah dihuni sejak zaman prasejarah. Pada milenium 2 sM kota itu sudah terkenal, dan di sekitarnya Abraham mengalahkan suatu persekutuan raja-raja (Kej 14:15). Mungkin sekali Eliezer, hamba Abraham, berasak dari kota ini (Kej 15:2; Syr dan VSS). Daud menaklukkan dan menduduki Damsyik sesudah ia mengalahkan pasukan yg disumbangkannya untuk membantu Hadadezer, raja Zoba (2 Sam 8:5 dab; 1 Taw 18:5). Rezon, raja Zoba yg lari dari pertempuran, di kemudian hari memasuki kota ini menjadikannya ibukota dari suatu negara Aram yg baru dibentuk (Siria; 1 Raj 11:24).

Pengaruh kota ini bertambah-tambah waktu pemerintahan para pengganti Rezon, yaitu Hezion dan anaknya Tabrimmon. Menjelang Ben-Hadad I naik takhta, yaitu anak Tabrimmon (kr thn 900-860 sM), Damsyiklah rekan yg unggul dalam perjanjian yg dibuat Asa raja Yehuda, untuk mengimbangi tekanan yg dilancarkan Baesa, raja Israel, terhadap dia (2 Taw 16:2). Raja yg sama inilah (jika tidak, Ben-Hadad II) yang menjadikan pembangunan pasar di Damsyik menjadi bahan persetujuan dengan raja Ahab (1 Raj 20:34). Tujuan perjanjian ini ialah untuk mendapat dukungan Israel bagi persekutuan antar negara kota untuk menentang bangsa Asyur. Ben-Hadad (bh Asyur Adad-idri) raja Damsyik menyediakan tentara terbesar, yg terdiri dari 20.000 orang serdadu dalam pertempuran di Qarqar pada thn 853 sM, yg tidak tentu siapa pemenangnya. Mungkin Ben-Hadad-lah ‘raja Aram’, yg tidak disebut namanya, yg maju ke dalam pertempuran dimana Ahab menemui ajalnya (lih 1 Raj 22:29-36).

Di dataran dekat Damsyik, Hazael, bangsawan Damsyik, diurapi oleh nabi Elia sebagai raja Siria di hari mendatang (1 Raj 19:15), dan nabi Elisa, yg menyembuhkan Naaman, panglima dari Damsyik, diundang ke sana oleh Hazael untuk memberi nasihat tentang kesehatan Ben-Hadad (2 Raj 8:7). Pada tahun 843 sM Hazael harus lagi menghadapi serangan-serangan baru yg datang dari raja Asyur, Salmaneser III. Untuk sementara Hazael menguasai jalan yg melalui pegunungan Libanon, tapi sesudah ia kehilangan 16.000 tentara, 1.121 kereta perang, dan 470 tentara berkuda, ia terpaksa mengundurkan diri ke kota Damsyik, dan dari dalamnya ia berhasil mematahkan pengepungan musuh. Orang Asyur membakar perkebunan buah-buahan dan tanam-tanaman lain di sekeliling kota sebelum mengundurkan diri 11. Pada thn 805-803 sM raja Asyur, Adad-nirari III, melancarkan serangan-serangan terhadap raja Hazael dan Damsyik. Serangan selanjutnya pada thn 797 sM oleh Adad-nirari melemahkan Damsyik sedemikian rupa, sehingga Yoas, raja Israel dapat lagi merebut kota-kota di perbatasan utara, yg dulu jatuh ke tangan Hazael (2 Raj 13:25).

Dalam pemerintahan Rezin (bh Asyur Rahianu) Yehuda sekali lagi ditindas oleh Aram (2 Raj 16:6), dan pada thn 738 bersama dengan Menahem, raja Israel, menjadi bangsa taklukan dari Tiglat-Pileser III, raja Asyur. Segera sesudah itu memberontaklah Rezin, Elat ditaklukkannya, dan membawa banyak orang Yehuda sebagai tawanan ke Damsyik (2 Taw 28:5). Sesudah raja Ahas dari Yehuda memohon bantuan dari Asyur, yg mengindahkannya dengan melancarkan sederetan serangan berupa hukuman pada thn 734-732 sM, yg berpuncak pada penaklukan kota Damsyik, seperti dinubuatkan oleh nabi Yesaya (17:1) dan Amos (1:4-5), dan kematian Rezin.

Penjarahan kota itu (Yes 8:4), penggiringan penduduknya sebagai tawanan ke Kir (2 Raj 16:9; Am 1:5) dan kemusnahannya diucapkan sebagai pelajaran yg jelas kepada Yehuda (Yes 10:9 dab). Sebagai imbalan untuk pertolongan ini, Ahas diperintahkan harus membayar upeti kepada raja Asyur di Damsyik, dan di situ dilihatnya mezbah orang Asyur dan ditirunya (2 Raj 16:10-12), dan hal ini menggoda Yehuda menyembah allah-allah orang Siria di dalam Bait Suci di Yerusalem (2 Taw 28:23). Damsyik turun menjadi kota yg kurang penting dalam lingkungan propinsi Hamat dari kerajaan Asyur dan dengan itu kehilangan pengaruh politiknya, tapi pengaruh ekonominya belum seluruhnya hilang (bnd Yeh 27:18). Pedagang-pedagang Yehuda terus-menerus bertempat tinggal di kota itu, dan perbatasan kota Damsyik dianggap sama dengan perbatasan negara Yahudi yg dicita-citakan (Yeh 47:16-18; 48:1; Za 9:1).

Pada zaman wangsa Seleukus Damsyik kehilangan kedudukannya sebagai ibukota, dan dengan demikian banyak perdagangannya pindah ke Antiokhia, walaupun kemudian dipulihkan sebagai ibukota Kulesiria dalam pemerintahan Antiokhia IX pada thn 111 sM. Aretas, raja Nabatea mengalahkan kota itu pada thn 85 sM, tapi kehilangan kekuasaannya terhadap Tigranes, raja Armenia. Damsyik menjadi kota kerajaan Roma dari thn 64 sM — 33 M.

Menjelang pertobatan Paulus kota itu diperintah oleh seorang wali negeri yg diangkat oleh Aretas IV (9 sM — 40 M), yg sudah mengalahkan menantunya Herodes Antipas (2 Kor 11:32). Dalam kota itu banyak sinagoge atau rumah ibadat (Kis 9:2; Jos BJ 2.20) dan di sinilah berkhotbah rasul Paulus pertama sekali, sesudah dibawa ke rumah Yudas di Jalan Lurus (9:10-12) di mana dia dikunjungi oleh Ananias. Perlawanan di kota itu memaksa rasul Paulus lari dengan diturunkan dari atas tembok kota (9:19-27), tapi ia kembali sesudah berada di (dekat) tanah Arabia beberapa lama (Gal 1:17). Kedudukan Damsyik tetap di bawah kota Antiokhia, baik secara politik maupun secara ekonomi, sampai dipulihkan kembali oleh penaklukan Arab pada thn 634 M.12

ayat 12-24 Tarsis berdagang dengan segala macam barang yang banyak, menukarkan perak, besi, timah putih, hitam dengan barang-barang Tirus. Yawan, Rubal dan Mesekh berdagang dengan Tirus, Dari Bet-Togarma menukar kuda kereta, kuda tunggang, Orang Rodos membawa gading dan kayu arang sebagai upeti, Edom menukarkan permata batu, kain ungu tua, pakaian halus dan lenan. Yuda dan tanah Israel menukarkan gandum, mur, madu, minyak, dan balsam. Damsyik berdagang anggur dan bulu domba, besi, kayu, tebu, kulit pelana, domba jatan, domba betina, rempah-rempah, segala batu permata, emas, diganti dengan barang-barangmu. Haran, Kane, Eden, Asyur, Kilmad berdagang dipasar-pasar dengan pakaian warna-warna-warni, jubah yang indah-indah, permadani yang berakena warna tali berpilin teguh.

Madu

Madu termasuk bidang hasil-usaha Israel yang paling bernilai di dalam PL. Madu juga diekspor (Kej 43:11; Yeh 27:17). Madu begitu dihargai, sehingga orang bisa menghadiahkannya kepada seorang nabi (1Raj 14:3) atau mempersembahkannya kepada Yahwe (Im 2:11-12). Orang tidak bisa memakainya untuk kebaktian (Im 2:11). Madu dimakan begitu saja (1Sam 14:25-27; Yes 7:15) atau digunakan untuk memaniskan makanan. Madu diambil dari lebah liar (Ul 32:13; Hak 14:8; Mark 1:6 dsj. dan lain-lain). Belum ditemukan titik terang, apakah sebelum zaman Helenis sudah ada pemeliharaan lebah. –> Ungkapan yang memenuhi seluruh PL “susu dan madu” adalah sebuah hiperbol, yang melukiskan Kanaan sebagai tanah yang terberkati.

Madu hutan ditemukan di batu-batu karang Palestina (Ul. 32:13). Madu juga ditemukan dalam kerangka singa yang telah mati (Hak. 14:8), dan dalam sarang lebah di tanah (1Sam. 14:15). Madu merupakan salah satu makanan *Yohanes Pembaptis (Mrk. 1:6). Susu dan madu tersedia bagi umat Israel di *tanah yang dijanjikan (Kel. 3:8), karena itu memberikan susu dan madu dalam satu dari tiga cawan kepada orang yang baru *dibaptis pada hari raya *Paskah, menjadi kebiasaan dalam Gereja Perdana.

Pohon Aras

  1. Ditanam oleh Tuhan.Mazm 104:16; Yes 41:19
  2. Ditanam untuk memuji Tuhan.Mazm 148:9
  3. Libanon terkenal karena – .Hak 9:15; Mazm 92:13
  4. Tepi sungai sangat baik untuk pertumbuhan – .Bil 24:6
  5. Diimpor oleh Salomo.1Raj 10:27
  6. Dilukiskan sebagai pohon yang:
    1. 6.1 Tinggi.Yes 37:24; Yeh 17:22; Am 2:9
    2. 6.2 Rindang.Mazm 80:10,11
    3. 6.3 Berbau wangi.Kid 4:11
    4. 6.4 Indah dan hebat.Mazm 80:11; Yeh 17:23
    5. 6.5 Kuat dan tahan lama.Yes 9:9-11
  7. Dianggap sebagai pohon yang terpenting.1Raj 4:33
  8. Banyak diperdagangkan.; Ezr 3:71Raj 5:10,11
  9. Digunakan untuk:

    9.1 Mendirikan Bait Suci.1Raj 5:5,6; 6:9,10

    9.2 Mendirikan istana-istana.2Sam 5:11; 1Raj 7:2,3

    9.3 Membuat tiang kapal.Yeh 27:5

    9.4 Membuat peti pakaian.Yeh 27:24

    9.5 Membuat tandu.Kid 3:9

    9.6 Menyucikan orang-orang yang berpenyakit.Im 14:4-7,49-52

    9.7 Menyediakan air pentahiran.Bil 19:6

    9.8 Membuat patung-patung.Yes 44:14,15

  10. Burung nasar dilukiskan sebagai:

    10.1 Bersarang di – .Yer 22:23

    10.2 Hinggap pada puncaknya.Yeh 17:3

    10.3 Menolong memperbanyak – .Yeh 17:4,5

  11. Pemusnahan – suatu hukuman.Yer 22:7
  12. Pemusnahan – menunjukkan kuasa Allah.Mazm 29:5
  13. Melukiskan:

    13.1 Kebenaran, kekuatan dan kemuliaan Kristus.Kid 5:15; Yeh 17:22,23

    13.2 Keindahan dan kemuliaan Israel.Bil 24:6

    13.3 Pertumbuhan yang pesat dari orang-orang kudus.Mazm 92:13

    13.4 Bangsa-bangsa yang kuat.Yeh 31:3; Am 2:9

    13.5 Pemerintah-pemerintah yang sombong.Yes 2:13; 10:33,34

Pohon Aras

Sering digunakan sebagai Metafora kemegahan dan keagungan. Tapi juga mengacu kepada keangkuhan manusia. ;Ayb 40:12; Hak 9:15; Kid 5:15; Yes 2:13; 14:8; 37:24; 41:19; Yer 22:7, 23; Yeh 31:8; Am 2:9; Za 11:1, 2.

Tarsis.

Beberapa acuan dalam PL menyebut kapal-kapal, yg mengisyaratkan bahwa Tarsis berbatasan dengan laut. Maka Yunus naik kapal, menuju Tarsis (Yun 1:3; 4:2) dari Yafo dengan maksud melarikan diri ke suatu negeri yg jauh (Yes 66:19). Negeri itu kaya akan logam ump perak (Yer 10:9), besi, timah putih, timah hitam (Yeh 27:12), yg diekspor ke tempat-tempat seperti Yafo dan Tirus (Yeh 27). Suatu daerah di bagian barat Laut Tengah di mana terdapat banyak endapan mineral, agaknya merupakan penjabaran yang mungkin, dan banyak ahli menganggapnya Tartesus yg di Spanyol.

Kekayaan logam di Spanyol menarik perhatian bangsa Fenisia, yg mendirikan koloni di sana. Bukti yg menarik perhatian datang dari Sardinia; di sana terdapat tulisan ukiran karya orang Fenisia pada abad 9 sM, yg mengandung nama Tarsis. W. F Albright beranggapan bahwa kata Tarsis itu sendiri mengisyaratkan pengertian menambang atau melebur, dan dalam pengertian ini tiap negeri yg kaya mineral mungkin saja disebut Tarsis (walaupun agaknya yg paling mungkin Spanyol-lah negeri yg dimaksud). Suatu akar kata Sem kuno, yg didapati dalam bh Akad, rasasu, artinya ‘melebur’, ‘dilebur’. Kata benda yg diturunkan, tarsisu dapat dipakai untuk memaksudkan tempat peleburan atau penyulingan (bnd bh Arab rss, ‘menitik atau menitis’, dst ttg benda cair). Justru setiap tempat, di mana dikerjakan penambangan atau peleburan, dapat disebut Tarsis.

Bagaimana kelihatannya tempat seperti itu, dapat disimpulkan dari penggalian N Glueck di Ezion-Geber di Teluk Akaba, di situ ada kilang tembaga pada zaman Salomo, dan terus sampai abad 9 sM. Biji tembaga ditambang dan dilebur di daerah sebelah utara pelabuhan Ezion-Geber di wilayah Arab. Tepat di tempat inilah berlabuh armada kapal Tarsis Salomo (1 Raj 10:22; 22:48;2 Taw 9:21). Ungkapan ‘oni tarsyisy (armada) kapal Tarsis bisa mengacu kepada kapal-kapal yg membawa logam yg telah dilebur, atau ke negeri-negeri jauh dari Ezion-Geber, atau ke Fenisia dari Laut Tengah bagian barat. Mengenai pendapat bahwa kapal-kapal Tarsis ialah kapal-kapal laut yg disebut menurut pelabuhan Tarsus, atau bh Yunani tarsos, ‘kayuh atau dayung’, Kapal-kapal ini melambangkan kekayaan dan kekuasaan. Lukisan yg tajam sekali tentang hari penghakiman Allah ialah gambar pemusnahan kapal-kapal pada hari itu (Mzm 48:7; Yes 2:16; 23:1, 14).13

ayat 25 Kapal-kapal Tarsis membawa barang-barang dagangan dengan penuh muatan, menuju

ketengah lautan.

Tarsis terkenal dengan kota logam dan peleburan logam, dimaa tarsis mengacu pada kapal-kapal yang membawa logam yang telah dilebur.

ayat 26-31 ke dalam lautan yang luas pendayung-pendayung membawa kapal tersebut. Harta, barang- barang dagangan, anak kapal, dan pelaut-pelaut tukang-tukang, dan pedagang-pedagang, prajurit-prajurit, penumpang-penumpang, terbenam dan tenggelam, para pelaut berteriak, mereka turun dari kapalnya, dengan anak kapal mereka lari ke daratan. Ratapan kuat, teriakan pahit diperdengarkandan mereka menaruh abu di kepala mereka. Mereka menggunduli kepala mereka, berguling-guling dalam debu, menangis, jiwa mereka merana, suatu ratapan yang pahit.

ayat 32-36. Dalam ratapan mereka berkata: siapa seperti Tirus yang sudah dimusnahkan ditengah lautan, Sesudah barang-barangnya datang dari laut, mengenyangkan banyak bangsa-bangsa, dengan banyaknya barang-barang kapal itu mengenyangkan banyak raja-raja dunia, sekarang kapal itu telah rusak, dan dilenyapkan dari permukaan laut dan tenggelam di dasar lautan. orangorang pesisir kaget melihatnya, raja-raja menggigil, mukanya berkerut, pedagang bangsa-bangsa bersuit terhadapnya, dan akhir hidup mendasyatkan.

Tampaknya nubuatan Yehezkiel terkait erat dengan perkataan Tirus yang bersyukur sebab melihat hancurnya Yerusalem pada pasal 26. Sebuah nubuat balas dendam kepada Tirus sebab mensyukurkan kehancuran Yerusalem. Yehezkiel tampaknya menyerang apa yang menjadi kemegahan bagi Tirus, yaitu kapal yang dibuat dengan megah dan indah, dimana kapal tersebut telah menjadi kebanggaan dan ikon dari Tirus. Kapal tersebut juga menjadi penopang perekonomian Tirus yang berdagang dan mengangkut barang-barang dengan bangsa-bangsa lain.

 1 A. B Davidson Ezekiel CBSC, hlm 30dan J Skinner HDB, 1, hlm 817a

2Ibid., hal.1308

3 Alkitab edisi studi, LAI: Jakarta, 2010, hal 1308

 4Alkitab edisi studi, LAI: Jakarta, 2010, hal 1309

5 ‘The New Assyro-Tyrian Synchronism and the Chronology of Tyre’, dalam Melanges Isidore Levy, 1955, hlm 1-9

6 Ibid

7Ibid

8 W. F Albright, A Poidebard dan L Cayeux, Un grand Port disparu, Tvr, 1939

9 singgungan akan Tirus dalam tulisan-tulisan dari zaman kuno (ANET; DOTT); N Jidejian, Tyre through the Ages, 1969; H. J Katzenstein, The History of Tyre, 1973. DJW/MHS/HAD

10. DOTT, hlm 5, ANET, hlm 278, n.8.

11 DOTT, hlm 48; ANET, hlm 80

12 M. F Unger, Israel and the Aramaeans of Damascus, 1957; A Jepsen,’Israel and Damaskus’ in Archiv fur Orientforschung, 14, 1942, hlm 153-172. DJW/MHS

13W. F Albright, ‘New Light on the Early History of Phoenician Colonization’, BASOR 83, 1941, hlm 14 dab; N Glueck, The Other Side of Jordan, 1, 1940, hlm 93 dab; id, ‘Excavations at Ezion Geber’, BASOR 79, 1940, hlm 3 dab; GTT, hlm 88 dab; C. H Gordon, ‘Tarshish’, !DB 4, hlm 517-518. 

sumber:sabda

kliping tugas paperku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: